KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN
PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA

KASUS PORNOGRAFI ANAK BERBASIS CYBER HARUS MENJADI PERHATIAN BERSAMA

  • Dipublikasikan Pada : Senin, 29 Mei 2017
  • Dibaca : 565 Kali
...


 

KEMENTERIAN

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

REPUBLIK INDONESIA

 

PRESS RELEASE

 

KASUS PORNOGRAFI ANAK BERBASIS CYBER HARUS MENJADI PERHATIAN BERSAMA

 

Siaran Pers Nomor: B- 046/Set/Rokum/MP 01/05/2017

 

Jakarta (24/5) - Pornografi anak melalui media digital kembali terkuak. Hari ini, Polda Metro Jaya dalam konferensi persnya bersama Asdep Perlindungan Anak dari kekerasan dan eksploitasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), bersama Kak Seto dan Ketua KPAI menjelaskan kronologi pengungkapan kasus pornografi anak melalui Skype yang terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Direktur Reskrimsus Polda Metro Jaya Kombes Wahyu Hadiningrat mengungkapkan jika kasus tersebut telah diselidiki sejak April 2017. Pelaku melalui akun skype-nya tersebut membuat konten (foto dan video) tentang pornografi anak dan mentransmisikan gambar dan video yang bermuatan kesusilaan atau pornografi anak di bawah umur. Menjadi sorotan, sebab pelaku melakukan pelecehan seksual terhadap anak kandung dan keponakannya sendiri, dan disiarkan secara live streaming serta disebarkan ke grup Whatsapp dan Telegram lintas internasional.

“Komunitas ini terkuak setelah polisi mengidentifikasi seorang WNI melakukan kekerasan seksual terhadap anak kecil melalui platform Skype. Kemudian kami bekerja sama dengan US Ice Homeland Security (bidang khusus dalam child pornografi di AS), di mana data internasional yang didapat itu diinformasikan ke kami, sehingga tanggal 6 Mei kami berhasil menangkap pelakunya," ujar Wahyu.

KemenPPPA yang diwakili oleh Asdep Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Rini Handayani menerangkan jika kejadian ini merupakan kasus eksploitasi seksual terhadap anak, karena dilakukan pelaku bukan berdasarkan motif ekonomi. Tentu akan berdampak luarbiasa terhadap psikis para korban, karena rentan waktu terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual dilakukan oleh pelaku sejak anaknya berusia 2 tahun.

 “Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak mengutuk dengan keras kejadian pornografi anak ini. Ini merupakan kasus cyber pornografi anak terbesar kedua di Indonesia yang berhasil diungkap. Apalagi kasus ini dilakukan oleh orang terdekat yakni ayah kandung, dimana orangtua seharusnya melindungi anak malah melakukan kejahatan seksual. Penegakan hukum harus benar-benar dilakukan, pelaku harus dihukum seberat-beratnya, dengan ancaman UU RI no.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No.23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman mati,” ujar Asdep Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi, Rini Handayani.

Kejahatan seksual dan eksploitasi terhadap anak melalui cyber sudah sangat menghawatirkan. Diperlukan upaya bersama untuk mencegah agar tidak terjadi kembali, tidak hanya pemerintah tapi keluarga, pendidik, masyarakat dan anak juga berperan. Kemen PPPA menghimbau agar rekan sebaya anak, keluarga, dan masyarakat agar lebih peduli terhadap lingkungan di sekitar anak. Gerakan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) harus digalakkan dan massif, terutama di daerah terpencil atau terjauh.

“Kemen PPPA mengapresiasi kerja pihak kepolisian yang berhasil mengungkap kasus ini, dan mengharapakan hal ini menjadi perhatian bersama. Kemen PPPA akan mengawal proses penanganan bagi anak-anak yang menjadi korban dan memastikan anak tersebut mendapatkan layanan rehabilitasi kesehatan, rehabilitasi sosial dan pendampingan untuk menghilangkan trauma. Melalui P2TP2A pendampingan tidak hanya dilakukan kepada anak-anak yang menjadi korban tapi juga bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Melalui forum-forum anak pula akan kita perkuat agar anak bisa membentengi diri untuk mencegah terjadinya kasus-kasus serupa,” jelas Rini.

 

PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN

                                                                                                 DAN PERLINDUNGAN ANAK

                                                                                                         Telp.& Fax (021) 3448510,

                                                                                        e-mail : publikasikpppa@gmail.com

www.kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 17 November 2017

KEKERASAN TERHADAP ANAK BUKAN LAGI RANAH PRIVAT (34)

Kasus kekerasan terhadap anak hingga meninggal semakin memprihatinkan. Selain kasus penyiksaan fisik terhadap Angeline yang berusia 8 tahun hingga meninggal…
Iklan Layanan Masyarakat, Kamis, 16 November 2017

Penting Penataan Kelembagaan Dinas PPPA dan Pembentukan UPTD PPA (23)

Hallo sahabat perempuan dan anak! Saat ini negara hadir untuk meningkatkan pelayanan bagi korban kekerasan dapat melingkupi layanan pengaduan, penjangkauan…
Siaran Pers, Rabu, 15 November 2017

PEMERINTAH HARUS BANYAK SOSIALISASI PROGRAM DAN INOVASI KE MASYARAKAT (56)

Yogyakarta (15/11) – “Pemerintah perlu banyak melakukan sosialisasi atau  menceritakan kepada masyarakat mengenai kinerja, prestasi, dan inovasi yang sudah dilakukan.
Siaran Pers, Selasa, 14 November 2017

"Komitmen Indonesia dan Fiji dalam Penguatan PUG" (82)

Yogyakarta (14/11) – Sebagai salah satu bentuk implementasi kerjasama antara Kementerian PPPA dengan Kementerian Perempuan, Anak dan Pengentasan Kemiskinan Republik…
Siaran Pers, Kamis, 09 November 2017

BEGINI CARA KOTA PAYAKUMBUH KOMITMEN LINDUNGI ANAK (149)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB),…