KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN
PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA

Warga Ikut Berperan Hadapi Tantangan Kedaulatan Bangsa

  • Dipublikasikan Pada : Jumat, 20 Oktober 2017
  • Dibaca : 128 Kali
...

Warga Ikut Berperan Hadapi Tantangan Kedaulatan Bangsa

 

Jakarta, 19 Oktober 2017 - Di tengah ancaman ketahanan nasional, peran warga negara sangatlah dibutuhkan. Warga negara dari berbagai profesi bisa mendukung dan mewujudkan aksi bela negara sesuai profesinya masing-masing. Mulai dari petani, pedagang, guru, buruh hingga profesional bisa ikut berperan dalam melakukan aksi bela negara. Hal ini dikatakan Staf Ahli Bidang Hankam Setjen Wantannas, Mayjen TNI Toto Siswanto saat mewakili Sesjen Wantannas, Letjen TNI Nugroho Widyotomo dalam acara Forum Tematik Bakohumas yang diadakan Setjen Wantannas, Rabu (18/10/2017).

Menurut Toto, saat ini tantangan dan ancaman terhadap kedaulatan bangsa sifatnya multi dimensi. Itu artinya ancaman tidak lagi bersifat konvensional atau fisik  semata, tapi sudah berkembang baik fisik maupun non fisik. Ancaman berkembang menjadi multi dimensi karena karakter ancaman dapat bersumber dari ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya. Sehingga hal ini mengharuskan pendefinisian ulang apa yang dimaksud dengan bela negara dalam situasi saat ini. “Aksi bela negara bisa dilakukan oleh setiap warga negara, mulai dari profesional hingga petani, buruh, pedagang. Semua peran masing-masing bisa diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari ,” kata Toto.

Dalam acara yang diadakan di Kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini,  lanjut Toto, sebelumnya Presiden Joko Widodo pada tanggal 3 Februari 2017 mengatakan, bahwa untuk masalah bela negara agar diberikan dan diperkuat penanganannya kepada Dewan Ketahanan Nasional (Watannas), yaitu dengan tidak membentuk organisasi baru. Atas perintah Presiden tersebut, Watannas siap melakukannya.

“Sesuai tema acara pertemuan Bakohumas kali ini, yaitu tugas dan fungsi Watannas dan bela negara, sesuai Keputusan Presiden No 101 Tahun 1999, tugas pokok Watannas membantu Presiden dalam menyelenggarakan pembinaan ketahanan nasional, guna menjamin pencapaian tujuan dan kepentingan nasional Indonesia.  Adapun fungsi Watannas adalah penetapan kebijakan strategi nasional dalam rangka pembinaan ketahanan nasional Indonesia.  Kedua, penetapan kebijakan strategi nasional dalam rangka menjamin keselamatan bangsa dan negara. Dan ketiga, penetapan risiko pembangunan nasional yang dihadapi untuk kurun waktu tertentu dan pengerahan sumber-sumber kekuatan bangsa dan negara dalam rangka merehabilitasi akibat dari risiko pembangunan,” papar Toto.

Sementara mewakili Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Niken Widiastuti, dikatakan Prof Dr Hendri Subiakto, forum tematik Bakohumas kali ini memperkenalkan Watannas agar masyarakat memahami fungsi dan tugas Watannas. Forum yang mengundang humas berbagai Kementerian dan Lembaga ini bisa menjadi ajang diskusi membahas isu-isu krusial terkait ketahanan nasional.

 “Watannas Ketuanya adalah Presiden, Watannas sebagai lembaga yang sangat strategis yang mengkaji dan membuat kebijakan atau masukan kepada Presiden terkait ketahanan nasional. Ketahanan nasional sifatnya dinamis, ulet dan tangguh dalam menghadapi dan mengantisipasi persoalan, tantangan dan hambatan, baik ancaman  dari dalam maupun luar. Tetapi sekarang perkembangannya luar biasa. Seperti kita ketahui, masih banyak anak bangsa yang ingin menggantikan Pancasila sebagai ideologi negara. Padahal jelas Indonesia berdiri, terwujud dan bisa menjadi sebuah bangsa yang besar karena Pancasila. Sampai detik ini, tantangan yang dihadapi bangsa terus terjadi.  Masih ada orang yang bermimpi ingin membentuk negara berdasarkan ideologi lain di luar Pancasila,” kata Hendri.

Menurutnya, apakah bangsa ini masih mampu mempertahankan dinamika politik yang sehat. Tidak ada lagi huru hara politik, tidak ada lagi persoalan yang menguras energi bangsa dengan menabrak rambu-rambu politik yang sudah ditetapkan negara dalam proses demokrasi Pancasila. Jika masih terus terjadi maka hal ini menjadi persoalan yang harus dikaji Watannas.

“Ketahanan ekonomi juga tidak kalah penting, ketahanan yang terkait dengan pertahanan negara. Kalau ekonomi menyangkut banyak hal seperti ketahanan pangan dan ketahanan air dan lainnya.  Ada persoalan baru yaitu ketahanan komunikasi dan ketahanan di bidang cyber. Dulu orang tidak pernah bicara soal cyber  karena persoalan cyber dianggap bukan persoalan penting.  Sekarang kehidupan sedang mengalami sebuah transformasi perubahan. Banyak aktivitas yang dulu ada di dunia fisik sekarang berpindah ke dunia cyber. Aktivitas ekonomi di dunia cyber yang disebut dengan digital ekonomi atau e-commerce mengalami peningkatan yang luar biasa besar. Tahun 2013 masih sekitar Rp112 triliun di Indonesia. Nilai yang sudah cukup besar. Tetapi menjadi sangat besar lagi di tahun 2016 tercatat ada peningkatan menjadi Rp440 triliun.”

Artinya, lanjut Hendri, kalau infrastruktur digital mengalami gangguan maka terganggu pula aktivitas  ekonomi. Bahkan menurut roadmap e-commerce di Kementerian Komunikasi dan Informatika, tahun 2030 diperkirakan mengalami peningkatan menjadi Rp1600 triliun transaksi di dunia cyber. “Itu baru jual beli, belum lagi katakanlah objek-objek vital seperti pembangkit listrik, kantor-kantor pemerintah. Apa jadinya kalau infrastruktur atau sistem cyber kita tidak tahan dengan serangan, hambatan, ancaman baik dari dalam maupun luar. Ini problem baru yang sekarang ril.”

Kini semua orang pun bisa aktif terlibat di dunia sosial media, bahkan masyarakat bisa menjadi wartawan. Semua orang bisa menjadi komentator di dunia sosial media. Dan jumlah pengguna sosmed meningkat sangat pesat. Facebook penggunanya sudah sampai 120 juta, pengguna internet sudah 132,7 juta di tahun 2016. Diperkirakan tahun 2017 meningkat lagi menjadi 140 juta. Dan 4 dari 7 orang, aktif di sosmed. “Empat orang itu bisa jadi wartawan, provokator, komentator. Bisa jadi musuh negara atau atau pembela negara dalam konteks komunikasi. Ini menunjukkan bahwa perubahan teknologi komunikasi sangat signifikan merubah peta, cara kita berpikir tentang berbagai hal. Termasuk ketahanan atau bela negara.” (ari/hms)

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Minggu, 19 November 2017

PERAN PRAMUKA PUTRI DALAM MEMBANGUN BANGSA (29)

"Peran pramuka putri tidak hanya ke internal, seperti menjadi putri, isteri dan ibu bagi anak-anaknya sendiri, melainkan sebagai sosok perempuan…
Siaran Pers, Sabtu, 18 November 2017

ANAK SEBAGAI INVESTASI SANGAT PENTING NEGARA (50)

Pasuruan (18/11) "Saya ingin Pemerintah mendengar suara Forum Anak. Negara tidak akan rugi mendengarkan suara anak-anak. Anak-anak merupakan investasi yang…
Siaran Pers, Jumat, 17 November 2017

PELUNCURAN IKKA 2015 SEBAGAI PENUTUP RAKORTEK PERLINDUNGAN ANAK (17)

Yogyakarta (17/11)  "Dalam menyusun sebuah program pembangunan perlindungan anak, salah satu hal yang paling penting adalah agar kita memiliki ukuran…
Siaran Pers, Jumat, 17 November 2017

KEKERASAN TERHADAP ANAK BUKAN LAGI RANAH PRIVAT (86)

Kasus kekerasan terhadap anak hingga meninggal semakin memprihatinkan. Selain kasus penyiksaan fisik terhadap Angeline yang berusia 8 tahun hingga meninggal…
Iklan Layanan Masyarakat, Kamis, 16 November 2017

Penting Penataan Kelembagaan Dinas PPPA dan Pembentukan UPTD PPA (45)

Hallo sahabat perempuan dan anak! Saat ini negara hadir untuk meningkatkan pelayanan bagi korban kekerasan dapat melingkupi layanan pengaduan, penjangkauan…