KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN
PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA

Tawuran : Bentuk Kesalahan Remaja dalam Bereksistensi

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 25 April 2017
  • Dibaca : 838 Kali
...

Tawuran : Bentuk Kesalahan Remaja dalam Bereksistensi

Kalau enggak tawuran enggak jantan, enggak eksis, nggak cool, ketinggalan zaman”. Pandangan dogmatis yang keliru seperti ini telah tertanam dalam segelintir pelajar di Indonesia. Tawuran sudah menjadi trend yang mengakar di kalangan pelajar. Wujud tawuran itu sendiri saat ini telah bertransformasi menjadi bermacam-macam bentuk dan tidak hanya terjadi di lingkungan sekitar sekolah saja, namun terjadi di jalan-jalan umum. Tak jarang tawuran disertai perusakan fasilitas publik, bahkan telah menjurus pada perbuatan kriminal serius karena sudah terjadi pembunuhan. Data kasus pengaduan anak berdasarkan Klaster Pendidikan KPAI periode Januari 2010-Juli 2015 menyebutkan anak korban tawuran pelajar sebanyak 271 orang.  (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20160)

Baru-baru ini, masyarakat dibuat khawatir dengan adanya budaya “Klitih” yang ada di Yogyakarta dan telah mengakibatkan sekitar 5 nyawa melayang. Bagi masyarakat Yogyakarta zaman dahulu, “Klitih” sebenarnya merupakan aktivitas keluar rumah pada malam hari untuk mencari makanan. Namun, saat ini makna “Klitih” terdengar menjadi menyeramkan. Bukannya mencari makanan, namun berburu musuh atau korban secara berkelompok. Para pelaku dan korbannya pun mayoritas pelajar SMP hingga SMA. Saat ini, perencanaan tawuran pun sudah semakin canggih. Pada 25 Maret 2017 lalu, 10 pelajar ditangkap oleh pihak kepolisian di Bintaro, Tangerang Selatan, karena ingin melakukan aksi tawuran yang direncanakan melalui media sosial.

Istilah tawuran itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung pengertian perkelahian massal atau perkelahian yang dilakukan secara beramai-ramai. Pelajar biasanya melakukan aksi tawuran selepas jam bubaran sekolah. Bahkan ketika adanya doktrin yang dilakukan oleh senior kepada juniornya membuat  tawuran sudah layaknya mata pelajaran. Dalam pembekalan tersebut, para senior mengajarkan juniornya bagaimana caranya berkelahi dan cara mengenali siapa musuhnya. Perbekalan senjatanya pun tidak hanya mengandalkan tangan kosong, tetapi sudah menggunakan alat-alat yang mematikan, seperti parang, pedang samurai, gear dan rantai motor, atau semacam besi yang dirancang sedemikian rupa.

Secara fisik dan psikologis, remaja sebetulnya berada dalam masa transisi. Di tengah-tengah posisi yang tidak menentu dan dalam keadaan emosi yang tidak stabil akibat perubahan fisik dan kelenjar dalam tubuh, sebuah identitas diri remaja juga sangatlah penting untuk mendapatkan pengakuan akan keberadaan (eksistensi). Erik H Erikson, seorang ahli dalam psikolog perkembangan berpendapat bahwa dalam rangka pencarian identitas diri remaja sering terobsesi oleh simbol-simbol status yang populer di masyarakat luas seperti bergabung dalam kelompok tertentu. Hal ini dilakukan remaja karena ingin menunjukkan pada orang lain, khususnya orang dewasa bahwa remaja memiliki status yang lebih tinggi, lebih dianggap, bahkan lebih populer dari orang lain atau kelompok sebayanya. Di sinilah ruang dimana remaja dapat diterima sekaligus diakui oleh komunitas masyarakat di sekitarnya. Namun, ruang baru yang mereka huni tersebut terkadang menuntut hadirnya kultur solidaritas, bahkan dapat menyimpang menjadi sebuah sikap fanatisme dan vandalisme.

Faktor pemancing terjadinya tawuran pun biasanya sepele, mulai dari adanya sebuah pertandingan atau nonton konser, bersenggolan di bis, berebut pacar, bahkan tidak jarang saling menatap antar sesama pelajar mampu mengawali sebuah tindakan tawuran, karena mereka menganggapnya sebagai sebuah tantangan. Selain karena faktor internal yang terjadi dalam diri remaja, faktor eksternal sebenarnya juga mengambil andil sebagai penyebab terjadinya tawuran. Faktor tersebut diantaranya adalah pembekalan oleh senior yang diperkuat dengan adanya sejarah dendam antar sekolah yang sudah turun temurun, serta ketidakkonsistenan orang dewasa, yakni antara apa yang dikatakan oleh orang dewasa dengan kenyataan yang ada di lapangan. Bahkan, remaja kerap kali melihat aksi kriminal dan tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa melalui media massa atau video games, yang akhirnya dimungkinkan untuk menginternalisasi ke dalam moral ramaja.

Hal tersebut, seharusnya dipahami agar respon masyarakat awam maupun kalangan pendidik tidak serta merta menganggap remaja sebagai pemberontak dan pembangkang. Berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Pasal 59 tentang Perlindungan Anak, para remaja pelaku tawuran termasuk dalam golongan anak korban perlakuan salah yang seharusnya mendapatkan perlindungan khusus dari Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan lembaga negara lainnya dalam bentuk bimbingan nilai agama dan nilai moral, konseling, dan pendampingan sosial. Hal tersebut perlu dilakukan karena para remaja mengambil keputusan untuk melakukan tawuran karena adanya faktor eksternal.

Kasus tawuran merupakan pemicu terjadinya konflik sosial, untuk melindungi anak dari hal yang dapat memicu terjadinya konflik sosial seperti tawuran, maka Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menginisiasi lahirnya Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik Sosial. Salah satu program tersebut adalah pendidikan damai dan keadilan gender. Dalam kegiatan ini, anak-anak dan remaja diajarkan agar tidak melakukan aksi tawuran. Walaupun begitu, penanganan yang dilakukan oleh pemerintah tidak dapat berjalan maksimal jika tidak didukung oleh masyarakat, keluarga, pihak sekolah untuk mencegah tawuran antar pelajar. Hal ini pun senada dengan pernyataan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana S. Yembise, “Hal yang dibutuhkan remaja pada masa pencarian jati diri adalah perhatian dan penghargaan atas eksistensi dirinya, khususnya dari orang-orang dekatnya, terutama para orang tua. Selain mengawasi pergaulan anak, Orang tua juga diharapkan dapat memberikan motivasi dan apresiasi yang cukup kepada remaja. Dengan begitu, kecil kemungkinan remaja akan bergabung dan menyalurkan hasrat eksistensi dirinya di kelompok berkecenderungan negatif dan rawan tawuran”.

Untuk melakukan pencegahan tawuran antar pelajar, pihak sekolah sangat dibutuhkan untuk mensosialisasikan bahaya tawuran melalui mata pelajaran atau melalui kerjasama dengan pihak yang berwenang. “Selain memfasilitasi potensi remaja melalui kegiatan ekstrakulikuler, hal-hal yang kami prioritaskan adalah program pembinaan, pengawasan, dan sosialisasi terkait bahaya tawuran kepada pelajar. Hal ini dapat dilakukan dengan mengintregasikan bahaya tawuran dengan mata pelajaran, seperti agama dan kewarganegaraan. Selain itu, pihak sekolah juga dapat bekerja sama dengan pihak kepolisian dan Dinas PPPA setempat,” tandas Menteri Yohana S. Yembise.

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Minggu, 19 November 2017

PERAN PRAMUKA PUTRI DALAM MEMBANGUN BANGSA (29)

"Peran pramuka putri tidak hanya ke internal, seperti menjadi putri, isteri dan ibu bagi anak-anaknya sendiri, melainkan sebagai sosok perempuan…
Siaran Pers, Sabtu, 18 November 2017

ANAK SEBAGAI INVESTASI SANGAT PENTING NEGARA (50)

Pasuruan (18/11) "Saya ingin Pemerintah mendengar suara Forum Anak. Negara tidak akan rugi mendengarkan suara anak-anak. Anak-anak merupakan investasi yang…
Siaran Pers, Jumat, 17 November 2017

PELUNCURAN IKKA 2015 SEBAGAI PENUTUP RAKORTEK PERLINDUNGAN ANAK (17)

Yogyakarta (17/11)  "Dalam menyusun sebuah program pembangunan perlindungan anak, salah satu hal yang paling penting adalah agar kita memiliki ukuran…
Siaran Pers, Jumat, 17 November 2017

KEKERASAN TERHADAP ANAK BUKAN LAGI RANAH PRIVAT (86)

Kasus kekerasan terhadap anak hingga meninggal semakin memprihatinkan. Selain kasus penyiksaan fisik terhadap Angeline yang berusia 8 tahun hingga meninggal…
Iklan Layanan Masyarakat, Kamis, 16 November 2017

Penting Penataan Kelembagaan Dinas PPPA dan Pembentukan UPTD PPA (45)

Hallo sahabat perempuan dan anak! Saat ini negara hadir untuk meningkatkan pelayanan bagi korban kekerasan dapat melingkupi layanan pengaduan, penjangkauan…