KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN
PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA

PEREMPUAN INDONESIA TIDAK LAGI MISKIN ILMU

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 25 April 2017
  • Dibaca : 607 Kali
...

 

PEREMPUAN INDONESIA TIDAK LAGI MISKIN ILMU

Pendidikan merupakan proses komunikasi yang di dalamnya mengandung transformasi pengetahuan, nilai-nilai dan keterampilan-keterampilan, di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung sepanjang hayat, dari generasi ke generasi (Dwi Siswoyo, 2008: 25). Dari pengertian di atas dapat diartikan bahwa pendidikan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan seseorang. Melalui pendidikan, seseorang dapat memaksimalkan potensinya dan memiliki kesempatan untuk memperoleh jenjang karir yang lebih baik. Peserta didik di Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaimana agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpenting adalah memenuhi nilai di atas standar yang telah ditentukan saja. Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia

Seiring perkembangan zaman, dan pengaruh globalisasi yang terus-menerus terjadi maka berpengaruh terhadap pola pikir pendidik dan konservatif menjadi modern. menuntut seseorang meniti karier untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, dan memiliki keterampilan yang membuatnya ikut berkembang dan tidak tertinggal oleh perkembangan zaman. Tanpa adanya pendidikan yang bermutu, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan keterampilan generasi penerus bangsa tidak akan dapat bersaing dengan masyarakat didunia yang lebih maju. Untuk itu pemerintah berusaha agar pendidikan dapat dinikmati oleh semua warga Indonesia dan berlangsung seumur hidup sesuai dengan tujuan pembangunan yang telah disepakati.

Faktor Akses Pendidikan

Salah satu hal yang menghambat akses pendidikan bagi perempuan adalah faktor sosial dan ekonomi masyarakat yang rendah. Di masa lalu, masyarakat cenderung memilih menghentikan pendidikan anak perempuan ketimbang anak laki-laki. Pemikiran bahwa perempuan harus mengurus keluarga menyebabkan perempuan miskin ilmu. Untuk itu perlu didorong agar kaum perempuan diberikan akses seluas-luasnya dalam memperoleh pendidikan dengan tidak mengurangi kewajibannya untuk mengurus keluarga. Sehingga, perempuan dapat menguasai cara atau teknik memainkan peran atau melaksanakan tugasnya, disesuaikan tugas dan fungsinya masing-masing.

“Dalam berkarir, pendidikan menjadi amunisi utama kaum perempuan dalam mengeksplorasi jenjang karir yang lebih baik. Namun disamping itu, pendidikan tidak hanya penting bagi karir tetapi juga dapat menunjang kaum perempuan sebagai seorang ibu. Sebagai ibu, Perempuan mampu menjadi pendidik utama dalam mendidik anaknya bersama suami. Perempuan harus mengetahui porsi yang tepat dalam memberikan pendidikan anak-anaknya yang disesuaikan dengan tahap perkembangan anaknya ke depan. Dengan begitu perempuan bisa menciptakan generasi muda yang kreatif, inovatif, prestatif, edukatif dan produktif,” terang Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yembise.

Pendidkan yang layak tercermin dari beberapa indikator antara lain pendidikan tertinggi yang ditamatkan, rata-rata lama sekolah, angka partisapasi masyarakat. Angka Partisipasi Masyarakat (APM) merupakan suatu tolak ukur jumlah anak pada kelompok usia sekolah tertentu yang sedang bersekolah pada jenjang pendidikan sesuai dengan usianya. APM sendiri memberikan indikasi positif terhadap keikutsertaan masyarakat dalam sistem pendidikan yang disusun dengan memanfaatkan fasilitas pendidikan pada setiap jenjang pendidikan sesuai dengan umur sekolahnya.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2015, APM SD perempuan sekitar 96,86 persen sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki yang sekitar 96,45 persen di wilayah perkotaan. Hal yang sama terjadi pada wilayah perdesaan APM SD perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. APM SMP perempuan sekitar 81,80 persen lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki yang sekitar 79,50 persen di wilayah perkotaan. Sedangkan pada wilayah perdesaan SMP perempuan 77,49 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang sekitar 73,07 persen. Sementara jenjang pendidikan SMA perempuan sekitar 66,68 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang hanya 64,88 persen di wilayah perkotaan untuk wilayah perdesaan SMA perempuan sekitar 54,37 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang hanya 52,52 persen.  

Khusus untuk Perguruan Tinggi perempuan sekitar 26,86 persen lebih tinggi dari laki-laki sekitar 22, 54 persen untuk wilayah tinggal perkotaan, sedangkan wilayah perdesaan APM jauh lebih rendah dari perkotaan yaitu 9,62 persen untuk perempuan dan 7,36 persen untuk laki-laki. Seluruh data di tahun 2015 ini mencerminkan bahwa akses pendidikan bagi kaum perempuan semakin terbuka dan melahirkan potensi-potensi kaum perempuan yang berdaya saing dalam pembangunan nasional. Keterbukaan kesempatan perempuan mengalami peningkatan pada setiap jenjang pendidikan. APM SD perempuan mengalami peningkatan dari 90,37 persen pada tahun 2011 menjadi 96,42 persen pada tahun 2015, pencapaian tertinggi ini terjadi pada tahun 2014 , APM SMP perempuan mencapai 79,21 persen dan sedikit menurun pada tahun 2015, demikian pulan dengan APM SMA perempuan meningkat dengan signifikan. Walaupun APM perguruan tinggi mengalami peningkatan, tetapi sedikit menurun di tahun 2015. Pencapaian tertinggi APM perguruan tinggi mencapai 20,60 persen pada tahun 2014 dan menurun pada tahun 2015 dengan mencapai sekitar 19,09 persen. Hal ini membuktikan bahwa dewasa ini masyarakat telah mengedepankan pendidikan tidak hanya bagi kaum laki-laki tetapi juga bagi kaum perempuan.

Semakin tinggi pendidikan kaum perempuan maka kesempatan untuk mendapatkan atau menciptakan peluang kerja pun lebih tinggi. Kaum perempuan mampu mengeksplorasi potensinya untuk turut memberikan kontribusi yang maksimal bagi pembangunan nasional. “Bicara soal pendidikan, kita tidak akan pernah lupa pada perjuangan pahlawan kita, yakini Raden Ajeng Kartini. Kartini adalah salah satu pejuang perempuan di Indonesia yang mempunyai perhatian besar terhadap pendidikan terutama bagi kaumnya. Menurutnya, dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan yang semakin komplek baik laki-laki maupun perempuan harus mempunyai bekal yakni pendidikan. Untuk itu saya menghimbau kepada seluruh perempuan di Indonesia. Marilah kita berjuang bersama membangun bangsa ini dengan membekali diri kita melalui pendidikan yang tinggi,”tegas Menteri Yohana Yembise. [RA]

 

 

 

 

Publikasi Lainya

Berita, Selasa, 19 September 2017

Waspada Pandemi Influenza, Kemenkes Simulasi Siaga (40)

Sebagai komponen kesehatan masyarakat, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan wajib menanggapi keadaan darurat kesehatan masyarakat dan ancaman pandemi. Hal ini…
Siaran Pers, Senin, 11 September 2017

CEGAH KEKERASAN TERHADAP ANAK MELALUI PATBM (472)

Menyadari masih tingginya kasus kekerasan terhadap anak di masyarakat, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyelenggarakan Pelatihan Tematik…
Siaran Pers, Senin, 11 September 2017

Koperasi Sejahterakan Rakyat Indonesia (191)

Koperasi terbukti mampuĀ  menyejahterakan para anggotanya dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan ekonomi.
Siaran Pers, Kamis, 07 September 2017

Menteri Yohana Dukung Deklarasi Perempuan Pekerja Transportasi Indonesia (128)

Surabaya(6/9) Di atas Kapal Umsini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise mendengarkan dan merasakan persoalan-persoalan yang dihadapi…
Siaran Pers, Sabtu, 09 September 2017

PERAN PEREMPUAN UNTUK KELESTARIAN SUMBER DAYA AIR (297)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) secara aktif mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan dalam berbagai kebijakan perubahan iklim,…