PRESS RELEASE : MASYARAKAT JUGA MAMPU PERSEMPIT RUANG GERAK PELAKU KEKERASAN

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 31 Mei 2016
  • Dibaca : 1791 Kali

 

 

KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

REPUBLIK INDONESIA

             

 PRESS RELEASE

MASYARAKAT JUGA MAMPU PERSEMPIT RUANG GERAK PELAKU KEKERASAN

Siaran Pers Nomor: 50/Humas KPP-PA/05/2016

 

    Yogyakarta (31/5) -  Masyarakat harus bersatu mempersempit ruang gerak pelaku kekerasan seksual yang mengincar anak-anak, baik anak perempuan maupun anak laki-laki. Jangan sampai pelaku bebas berkeliaran. Jumlah masyarakat yang lebih banyak dari pelaku tentu memiliki kekuatan yang lebih besar untuk bisa mengawasi pelaku.  “Jangan sampai pelaku bebas, masyarakat harus bersatu mengurangi ruang gerak pelaku. Pelaku bisa bebas karena selama ini masyarakat tidak peduli. Pelaku paling hanya ada 20 persen, kenapa yang 80 persen masyarakat tidak saling mengawasi. Kalau kita awasi bersama pasti pelaku akan takut,” ujar Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat, Agustina Erni disela acara Puspa 2016 -  Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak, Senin (30/5/2016).                     

   Menurut Erni, masyarakat saat ini sudah banyak yang memiliki kepedulian tinggi dan langsung bergerak melakukan sesuatu untuk mencegah terjadinya kekerasan.  Banyak inisiatif sudah dilakukan kalangan bawah karena masyarakat sudah sadar dengan maraknya kasus-kasus kekerasan seksual. Disinilah peran pemerintah dibutuhkan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat lebih luas lagi, dengan menjadikan upaya yang sudah dilakukan sebagai proyek percontohan bagi masyarakat di daerah-daerah lain. Contohnya dari Cirebon dimana oleh kader Ibu Neneng Muslimah dia berhasil membuat RW Ramah Anak di Kelurahan Kecapi. Ibu Neneng berhasil mencanangkan wilayahnya bebas dari kekerasan, yang tadinya marak kekerasan dan pelecehan seksual, narkoba dan miras menjadi Kelurahan Nol Kekerasan,” ujar Deputi Erni.

    Salah satu keberhasilan Ibu Neneng adalah menggerakkan anak-anak untuk tidak keluar rumah selepas waktu Maghrib dan waktunya khusus untuk belajar. Dengan sirene yang dibunyikan lantang  dan didengar warga, praktis tidak ada anak-anak yang berkeliaran di luar rumah.  Hal itu sudah menjadi kesepakatan bersama antarwarga dan perangkat desa. 

  Adapun Temu Nasional Partisipasi Publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) 2016 yang diselenggarakan pada 30 Mei-1 Juni 2016 di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta memiliki tujuan mempromosikan Program Unggulan Three Ends. PUSPA juga bertujuan menggalang dukungan lembaga masyarakat, dunia usaha dan media untuk bahu membahu mempromosikan Program Unggulan Three Ends perempuan dan anak Indonesia. Di ajang Puspa, 400 peserta juga akan mendapatkan wahana berbagi pengalaman dan gagasan inovatif dalam Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia.                                                     

 

 

HUMAS KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN

 DAN PERLINDUNGAN ANAK                 

Telp.& Fax (021) 3448510,

e-mail : humas.kpppa@gmail.com

Publikasi Lainya

Dokumen Perencanaan, Selasa, 25 Februari 2020

Indikator Kinerja Utama Sekretarian Kementerian PPPA Tahun 2020 (12)

Indikator Kinerja Utama Sekretarian Kementerian PPPA Tahun 2020
Dokumen Kinerja, Selasa, 25 Februari 2020

Laporan Kinerja Sekretariat Kementerian PPPA Tahun 2019 (9)

Laporan Kinerja Sekretariat Kementerian PPPA Tahun 2019
Dokumen Perencanaan, Selasa, 25 Februari 2020

Rencana Strategis Sekretariat Kementerian PPPA 2015-2019 (Revisi) (7)

Rencana Strategis Sekretariat Kementerian PPPA 2015-2019 (Revisi)
Dokumen Perencanaan, Selasa, 25 Februari 2020

Perjanjian Kinerja Sekretariat Kemen PPPA 2020 (11)

Perjanjian Kinerja Sekretariat Kemen PPPA 2020
Siaran Pers, Senin, 24 Februari 2020

Peran Serta Dunia Usaha, Dorong Hak Anak Terpenuhi (81)

Kemen PPPA meresmikan Gerai Starbucks Community Store pertama di Indonesia di Pasar Tanah Abang,