ISLAM DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA

  • Dipublikasikan Pada : Jumat, 17 Maret 2017
  • Dibaca : 1527 Kali


 

KEMENTERIAN

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

REPUBLIK INDONESIA

 

PRESS RELEASE

 

ISLAM DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DALAM KELUARGA

Siaran Pers Nomor: B- 017/Set/Rokum/MP 01/03/2017

New York (17/3) – Al Qur’an diturunkan oleh Allah SWT, sementara hukum dan tata aturan dibuat oleh manusia, demikian garis besar pernyataan umum para panelis diskusi bertema “Who Provides? Who Decides? Egalitarian Marriage in Muslim Contexts”, yang diselenggarakan di sela-sela Sidang ke-61 Commission on the Status of Women di New York. Diskusi diselenggarakan atas kerja sama Perwakilan Tetap Republik Indonesia di New York dengan Musawah yang merupakan global movement untuk kesetaraan dan keadilan dalam keluarga Islam.

 

Panelis pembicara terdiri dari Nani Zulminarni (Indonesia), Marwa Sharafeldin (Mesir), Sarah Marsso (Perancis), Jennifer Olmsted (AS), Zainah Anwar (Malaysia) dengan moderator Mohammad Naciri yang merupakan Regional Director UN Women-Arab States.

 

Saat membuka diskusi, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana S. Yembise mengatakan bahwa peran perempuan dan laki-laki dalam sebuah keluarga dibentuk oleh faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Di Indonesia, berbagai kepercayaan dan adat istiadat mempengaruhi cara pandang masyarakat atas peran perempuan dalam keluarga.

 

Diskusi diselenggarakan untuk mengetahui hubungan peran kemampuan ekonomi suami-istri serta dinamika kekuasaan dalam perkawinan dan paska perceraian dalam konteks Islam, dilihat dari perspektif hukum dan sosial-ekonomi serta berdasarkan pengalaman nyata.

 

Qur’an menegaskan bahwa hubungan pernikahan dalam masyarakat Islam didasarkan pada nilai dan prinsip seperti rasa kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah), ketenangan (sakinah), kehormatan (karomah), konsultasi dan persetujuan bersama (tashawur wa taradi), keadilan, kesetaraan dan persamaan (‘adl, qist, insaf), kebaikan (ihsan), serta sesuatu yang secara umum dianggap baik (ma’ruf). Konsep tersebut dieksplorasi dalam publikasi Musawah Vision for the Family, dengan harapan bahwa pemberdayaan perempuan dalam keluarga menurut Islam dapat lebih dijalankan sesuai ajaran Islam dan bukan aturan yang dibuat oleh manusia.

 

Di hari yang sama, Menteri Yohana mengambil peran dalam diskusi yang diadakan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) bertema “Support of religious leaders and scholars for empowerment of women in the OIC member states”. Disampaikan kebijakan Pemerintah Indonesia untuk mendukung tokoh agama selalu didasari komitmen negara untuk menyejahterakan rakyatnya, termasuk kaum perempuan, berpedoman pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

 

 

                                                         PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN

                                                                                                 DAN PERLINDUNGAN ANAK

                                                                                                         Telp.& Fax (021) 3448510,

                                                                                        e-mail : publikasikpppa@gmail.com

www.kemenpppa.go.id

 

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Senin, 24 Juni 2019

Perkuat Peran Tokoh Adat dan Tokoh Agama Lindungi Perempuan dan Anak di Tanah Papua (13)

Perempuan dan anak seharusnya ikut terlibat aktif dalam berbagai sektor pembangunan, namun banyak di antara mereka yang masih mengalami berbagai…
Dokumen Kinerja, Jumat, 21 Juni 2019

LAKIP Inspektorat 2018 (19)

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018
Buku, Jumat, 21 Juni 2019

Laporan Akunntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018 (16)

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018
Program Kerja Pengawasan , Jumat, 21 Juni 2019

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018 (15)

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018
Siaran Pers, Kamis, 20 Juni 2019

Ramah Anak, Tanggung Jawab Media dalam Produk Jurnalistik (116)

Jakarta (19/06) – Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh dalam Sosialisasi Pemberitaan Media Ramah Anak di Jakarta (19/06)