BNPB Gelar Siaga Bencana Nasional

  • Dipublikasikan Pada : Jumat, 31 Maret 2017
  • Dibaca : 4042 Kali
...

BNPB Gelar Siaga Bencana Nasional

 

Jakarta, (30/3) -  Kapasitas masyarakat dalam mengantisipasi datangnya bencana masih sangat rendah. Padahal Indonesia merupakan negara yang paling rawan terjadi bencana karena secara geografis Indonesia berada di cincin ring of fire, atau wilayah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Penanganan antisipasi datangnya bencana perlu didorong bersama-sama untuk menghindari jatuhnya korban yang lebih besar lagi. Tidak hanya merupakan tugas pemerintah semata, atau masyarakat namun antisipasi dilakukan bersama-sama (stake holder).

Hal ini dikatakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Laksamana Muda TNI (Purn.) Willem Rampangilei pada acara “Geladi Siaga Bencana Nasional dan Manajemen Bencana serta Pengelolaannya”, Kamis (30/3/2017). Acara diadakan Pusat Informasi, Data Humas BNPB sebagai undangan forum tematik Bakohumas.

                  Menurut Willem, slogan globalnya penanggulangan bencana dilakukan secara multi stake holder, multi disiplin ilmu.  Mulai dari ilmu hukum, kebijakan publik, remote sensing bahkan ilmu gaib pun terkadang digunakan. Mengutip hasil survey di Jepang, Great Hansin Earthquake 1995, korban yang selamat dalam durasi “golden time” disebabkan kesiapsiagaan diri sendiri sebesar 35 persen, dukungan anggota keluarga sebesar 31,9 persen, dukungan teman atau tetangga sebesar 28,1 persen, dukungan orang di sekitarnya sebesar 2,60 persen, dukungan TIM SAR sebesar 1,70 persen  dan lainnya sebesar 0,90 persen.

                  “Berdasarkan kajian tersebut, faktor yang paling menentukan adalah penguasaan oleh diri sendiri dengan memiliki kemampuan untuk menyelamatkan diri dari ancaman risiko bencana. Berbagai kendala dan tantangan yang pada umumnya dihadapi pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan secara mandiri antara lain, masih kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap karakteristik bencana dan risikonya, kurangnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman yang ada di sekitarnya, belum adanya pelatihan secara terpadu dan periodik karena kewaspadaan dan kesiapsiagaan belum menjadi budaya,” papar Willem.

                  Itu sebabnya, lanjut Willem, Hari Nasional Kesiapsiagaan Bencana seperti usulannya untuk mengoreksi Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional yang diperingati pada 26 April mendatang, untuk mengingatkan perlunya antisipasi bencana guna menghindari dampaknya yang begitu besar. “Dampak bencana yang sudah kita alami terutama sejak tsunami tahun 2004 sangat luar biasa. Demikian komplek dan multi dimensional, karena berdampak pada kehidupan sosial, berdampak pada ekonomi. Belum lagi dampak lingkungannya yang pemulihannya butuh ratusan tahun. BNPB sendiri sudah berupaya sangat keras untuk mengantisipasi datangnya bencana karena kerugian ekonomi bangsa ini akibat bencana sangat besar kurang lebih 30 triliun rupiah. Apalagi kalau kita tidak berbuat apa-apa kerugiannya akan lebih besar lagi.”

Menurut Willem, kecenderungan datangnya bencana setiap tahun terus meningkat. Tahun 2016 tercatat 2.384 kali terjadi bencana di beberapa wilayah di Indonesia, 564 jiwa meninggal. Tahun ini saja sejak Januari hingga Februari 2017, korban jiwa mendekati 100 orang, terjadi di 105 kabupaten/kota, 22 provinsi. Makin meningkatnya bencana dari tahun ke tahun disebabkan adanya degradasi lingkungan di era reformasi yang tidak terkendali akibat iklim kebebasan. Ada kurang lebih 750 ribu sampai 1 juta wilayah yang mengalami degradasi, sementara  kemampuan BNPB untuk melakukan rehabilitasi atau pemulihan hanya 250 ribu saja.

Ditambahkan Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika Niken Widiastuti, dinamika komuniaksi yang berkembang dewasa ini membuat Bakohumas atau humas pemerintah harus lebih proaktif dan kreatif dalam mengemas komunikasi. Sesuai arahan Presiden RI pada awal Februari 2017 dan tahun lalu, Presiden sudah memberikan tekanan kepada humas pemerintah agar secepatnya menginformasikan apa yang sudah,  apa yang sedang dan apa yang akan dilakukan oleh Kementerian dan Lembaga. Berdasarkan Inpres Nomor 9 tahun 2015 seluruh Kementerian dan Lembaga  diminta untuk dapat menyampaikan informasi dan data kepada Kominfo yang nantinya akan dianalisis, diolah dan dirumuskan narasi tunggalnya.

“Berkaitan dengan penanggulangan kesiapsiagaan bencana perlu sinergitas dari seluruh Kementerian dan Lembaga. Seluruh Bakohumas harus bergandengan tangan dalam rangka untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan kewaspadaan, kesiapsiagaan dalam menghadapi datangnya bencana. Mengingat Indonesia berada di atas cincin api  bencana. Ada 13 jenis bencana dan setiap saat melalui SMS kita mendapatkan informasi terjadi bencana. Bahkan tadi malam ada gempa bumi, setiap saat terjadi bencana.”

Untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat, ada potensi jaringan yang luar biasa melalui Bakohumas Kementerian dan Lembaga dan juga 512 dinas Kominfo yang tersebar di seluruh Indonesia. “Kita juga memiliki jaringan yang bisa ikut menyebarkan informasi bencana melalui 6.000 Kelompok Informasi Masyarakat dan Kominfo sedang menggalakkan kembali juru penerang. Tahun ini kita rekrut juru penerang sebanyak 100 orang, sehingga informasi dari BNPB bisa langsung sampai ke masyarakat melalui jaringan kehumasan pemerintah. Potensi yang luar biasa itu bisa dimanfaatkan untuk literasi kesadaran bencana, khususnya di daerah bencana bagi masyarakat yang sulit berpindah tempat atau rawan bencana.”

Selain jaringan Kementerian dan Lembaga, semua Government Public Relation (GPR) juga memiliki jaringan yang sifatnya digitalisasi melalui media sosial. Twitter  yang ada di Kementerian dan Lembaga mencapai 19,2 juta pengikut. “Kita mampu membuat suatu informasi menjadi trending tropic, setiap hari kita naikkan narasi tunggal jadi isu, biasanya jadi trending tropic 1 atau 2 atau mampu masuk dalam 5 besar setiap harinya. Selain twitter kita juga ada media sosial facebook, line. Kita juga punya video tron yang dimiliki Kementerian dan Lembaga. Kita sinergikan untuk setiap saat menyampaikan  informasi dari seluruh Kementerian dan Lembaga. Media online hampir seluruh   Kementerian dan Lembaga punya. Ada juga sebagian rubrikasi yang memang didedikasikan setiap saat untuk mengisi informasi pemrintah melalui we chat, apakah berupa infografis, narasi tunggal video grafis, motion grafis yang setiap hari berganti seusai dengan narasi atau prioritas informasi yang akan kita sampaikan ke masyarakat.”

 Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho menambahkan,  acara “Geladi Siaga Bencana Nasional dan Manajemen Bencana serta Pengelolaannya” bertujuan untuk memperingati 10 tahun disahkannya UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Tujuan lainnya untuk mempromosikan kegiatan latihan kesiapsiagaan bencana pada 26 April untuk dijadikan titik tolak Kesiapsiagaan Nasional yang dilaksanakan serentak se-Indonesia. “Terpenting acara ini bisa meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.” (hms)

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Sabtu, 17 April 2021

Masyarakat dan Anak Bergerak Bersama Lindungi Anak Korban Terorisme ( 78 )

Sesuai Konvensi Hak Anak, setiap anak di Indonesia memiliki hak untuk bertumbuh dengan baik, didengarkan pendapat mereka dan memiliki hak…

Siaran Pers, Jumat, 16 April 2021

Wujudkan Nusa Tenggara Barat Lebih Ramah Perempuan dan Anak ( 37 )

Sudah banyak praktik baik yang dilakukan oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Siaran Pers, Jumat, 16 April 2021

Resmikan Radio Sekolah Perempuan, Menteri Bintang Dorong Pemberdayaan Perempuan di Lombok Utara ( 55 )

Desa Sukadana adalah salah satu desa di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang pada tahun…

Siaran Pers, Kamis, 15 April 2021

Poligami Tak Sesuai Syariat Berpotensi Rugikan Perempuan  ( 84 )

Jakarta (15/04) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengatakan sebuah perkawinan bukan hanya mengenai kepentingan individu atau…

Siaran Pers, Kamis, 15 April 2021

Cegah Kekerasan dalam Pengasuhan, Kemen PPPA Sosialisasi E-Learning Pengasuhan Positif ( 105 )

Jakarta (14/04) –  Mendidik anak adalah proses pembelajaran bagi para orangtua dengan harapan tumbuh kembang anak mereka terjaga dengan baik…