Press Release: Ketahanan Keluarga Kunci Pengentasan Angka Kematian Ibu

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 1982 Kali

PRESS RELEASE

KETAHANAN KELUARGA KUNCI PENGENTASAN ANGKA KEMATIAN IBU

 

“Angka Kematian Ibu (AKI) yang diukur oleh Survei Kesehatan dan Demografi Indonesia(SDKI) tahun 2007 adalah 228 per 100.000 kelahiran. Angka yang masih relatif tinggi ini masih membutuhkan banyak perhatian dan dukungan lebih. Banyak kejadian di masyarakat yang juga menyita perhatian, seperti krisis ekonomi, reformasi politik dan sebagainya. Hal lain yang sering  kita lihat dan alami adalah, bahwa isu AKI ini, sering terkalahkan oleh isu ekonomi, politik dan perubahan sosial lain”, ungkap Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PP&PA) ketika membuka Seminar Peringatan Hari Ibu (PHI) Ke-85 tahun 2013, bertempat di Ruang Auditorium Kementerian Agama (Kemenag), Kamis (12/12).

Menteri PP&PA pun menambahkan bahwa dalam kaitannya dengan isu gender, kehamilan juga merupakan tantangan bagi semua pihak, tak terkecuali kaum perempuan maupun laki-laki. Perlu dibangun suatu “mind set” bahwa kehamilan adalah tanggung jawab kaum laki-laki dan perempuan. Menteri PP&PA mengharapkan adanya perubahan pandangan patriarki dalam masyarakat terhadap kehamilan.

Dalam seminar yang mengangkat tema “Upaya Penerobosan dalam Penurunan Angka Kematian Ibu Untuk Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia” ini, Menteri PP&PA pun menginformasikan bahwa Indonesia masih memiliki program yang ditujukan untuk mengurangi AKI. “Kita pernah mempunyai upaya Gerakan Sayang Ibu, Suami Siaga yang kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi Desa Siaga dan seterusnya. Semuanya upaya itu antara lain adalah untuk membangun pemahaman tentang pentingnya membangun upaya masyarakat dan keluarga untuk menyiapkan sebuah kehamilan yang sejahtera dan persalinan yang paling aman untuk Ibu dan Anaknya.”

Upaya ini lebih banyak menyangkut upaya sosial dan budaya serta perilaku. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus lebih banyak mengikutsertakan para ahli sosial, budaya, antropologi dan komunikasi yang dapat memberikan lebih banyak masukan untuk rekayasa sosial dalam membangun pemahaman yang baik tentang kehamilan dan persalian. Secara umum kemajuan sebuah masyarakat dapat dilihat dari AKI. AKI juga merupakan sebuah nilai komposit dari banyak aspek kesejahteraan.

“Ibu yang sehat memerlukan gizi yang baik, kehamilan yang sehat memerlukan perawatan dari orang sekelilingnya, kehamilan yang aman memerlukan perhatian semua orang disekelilingnya, persalinan yang aman memerlukan perhatian dari semua orang di dalam komunitas. Kita sering mendengar bahwa AKI berkaitan dengan 3 Terlambat, terlambat mengetahui bahaya, terlambat mengirim ke fasilitas kesehatan dan terlambat menangani. Untuk itu perlu adanya dukungan dari keluarga sebagai lingkungan terdekat dari Ibu Hamil. Perlindungan bagi ibu hamil dapat dibangun jika keluarga dapat mengantisipasi berbagai perubahan pada ibu hamil. Untuk menjadikan keluarga seperti itu, keluarga harus dibangun sehingga mempunyai ketahanan yang besar dan dapat mengatasi masalah yang ada di dalamnya”, terang Menteri PP&PA.

Di dalam konsep ketahanan dan kesejahteraan keluarga, ada 5 komponen yang menentukan kualitas keluarga. Komponen-komponen itu adalah Landasan legal dalam wujud Akta Nikah dan Akta Kelahiran; keutuhan dan kesetaraan gender dimana sinergitas antara suami dan isteri diutamakan; Ketahanan fisik yang mencakup kesehatan dan keadaan tempat berteduh keluarga; Ketahanan ekonomi yang menjamin kehidupan keluarga dalam memenuhi kebutuhannya; Ketahanan sosial psikologi yang mencakup tingkat pendidikan anggota keluarga dan kemampuan menyelesaikan masalah; serta Ketahanan sosial budaya dimana interaksi keluarga dengan lingkungan dan peran keluarga terhadap tanggung jawab sosialnya yang berbasis budaya diwujudkan.

 

HUMAS KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

DAN PERLINDUNGAN ANAK

Telp.& Fax (021) 3456239, e-mail : humas.kpppa@gmail.com

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Senin, 16 September 2019

DPR RI Sahkan Batas Usia Perkawinan Jadi 19 Tahun (131)

Jakarta (16/09) – Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) sebagai Lembaga Legislasi telah membuat sejarah bagi Bangsa dan…
Siaran Pers, Senin, 16 September 2019

Industri Rumahan sebagai Percontohan Pembangunan Ekonomi Perempuan (57)

Bali (16/09) – Perekonomian Indonesia sebagian besar didukung oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berkontribusi terhadap Produk Domestik…
Siaran Pers, Senin, 16 September 2019

Raih Kategori Nindya, 3 Kab/Kota ini Jadi Tuan Rumah Media Trip KLA 2019 (64)

Kota Semarang, Kabupaten Sleman, dan Kota Balikpapan terpilih menjadi tuan rumah Media Trip Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) 2019
Siaran Pers, Minggu, 15 September 2019

Perkuat Kapasitas Auditor Demi Tingkatkan Program Responsif Gender di Sumatera Barat (53)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyelenggarakan acara Penguatan Kapasitas Auditor Pengawas Daerah dalam Pelaksanaan Perencanaan dan Penganggaran…
Siaran Pers, Minggu, 15 September 2019

Perencanaan Pembangunan Butuh Suara dari Kelompok Anak (59)

Bali (15/9) – Tantangan perlindungan anak dalam pembangunan sangat beragam.