MARI BERSAHABAT DENGAN ODHA DAN ADHA

  • Dipublikasikan Pada : Kamis, 22 November 2018
  • Dibaca : 552 Kali
...

KEMENTERIAN

PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK

REPUBLIK INDONESIA

 

PRESS RELEASE

MARI BERSAHABAT DENGAN ODHA DAN ADHA

Siaran Pers Nomor: B-235/Set/Rokum/MP 01/11/2018

 

Semarang (21/11) HIV dan AIDS merupakan salah satu penyakit yang dianggap momok saat ini, pengidap HIV dan AIDS tidak  hanya pada orang dewasa namun juga anak – anak. Efek merusaknya memang membahayakan, namun stigma negatif dan pemahaman salah kaprah yang berkembang mengenai penyakit ini bahkan jauh lebih merusak, karena kurangnya pemahaman masyarakat mengenai cara penularannya. Diperlukan kehadiran negara dan keterlibatan masyarakat, dalam mencegah HIV dan AIDS serta bagaimana mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan diskriminasi dan stigmatisasi kepada Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA) dan Anak Dengan HIV dan AIDS (ADHA).

“Sungguh disayangkan pengidap terbanyak pada usia produktif antara 20 – 30 tahun. Pasca 2016, situasi menjadi semakin memprihatinkan dan makin mengkhawatirkan karena ditemukan faktor penyebab “Tak Diketahui” yang menjadi lebih dominan, misalnya terungkapnya isu degradasi moral kemanusian, seperti longgarnya kesetiaan dalam hubungan suami isteri dan prostitusi yang makin marak. Tak kalah mirisnya juga melibatkan usia anak, yang sering diistilahkan dengan aktifitas seksual berisiko, baik yang dilakukan pasangan heteroseksual maupun homoseksual. Kondisi tersebut memiliki risiko terjangkit HIV mencapai tiga sampai lima kali lipat lebih besar,” pungkas Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Dermawan pada Kampanye Bersama “Kilau Generasi Bebas HIV dan AIDS” di Kota Semarang, Prov. Jawa Tengah.

Senada dengan Dermawan, Walikota Semarang, Hendrar Prihadi mengatakan bahwa “Penyebaran HIV dan AIDS disebabkan karena perilaku menyimpang seperti seks bebas dan sampai saat ini belum ada obat yang mampu menyembuhkan penyakit HIV dan AIDS, sementara penyakit tersebut terus menyerang kekebalan tubuh. Mirisnya, bayi yang baru lahir juga bisa mengidap penyakit HIV dan AIDS karena diturunkan dari orang tuanya. Kita tidak boleh menjauhi ODHA dan ADHA. Sebagai warga negara yang baik, kita harus memastikan ODHA dan ADHA tercatat di Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan dan jangan mendiskriminasi mereka,” ujar Hendrar.

Data dari kemenkes Pada 2017 untuk jawa tengah saja ada 19.272 orang terinfeksi HIV. sedangkan di seluruh Indonesia tercatat sudah lebih 280.623 jiwa terinfeksi  HIV dengan jumlah anak terinfeksi sebanyak 17.288 anak, dengan perincian anak 0 - 4 tahun berjumlah 8.564 anak dan usia 15 - 19 tahun sebanyak 8.724 anak. Permasalahan utama yang di hadapi dalam penanganan HIV dan AIDS saat ini adalah sulitnya melakukan upaya pencegahan dini karena tidak semua pengidap HIV dan AIDS mau atau berani memeriksakan dirinya ke lembaga layanan.

Untuk mengatasi dan mencegah HIV di kota Semarang, Ketua Tim HIV RSUP Dr Kariadi Semarang, DR. Dr. Muchlis Achsan Udji Sofro, SpPD, K-PTI, FINASIM Mengatakan bahwa masyarakat dapat melakukan tes HIV di Puskesmas, Rumah Sakit, dan laboratorium klinik terdekat.

Selain itu, bukan hal baru jika sebagian besar ODHA dan ADHA mengalami diskriminasi sosial akibat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai penyakit tersebut. Salah satu yang paling sering disalah pahami adalah metode penularan HIV dan AIDS.   Direktur Rehabilitasi Sosial Tuna Sosial dan Korban Perdagangan Orang Kementerian Sosial, Sonny Manalu pada Diskusi Publik “Kilau Generasi Bebas HIV dan AIDS” mengatakan penularan HIV dan AIDS dilakukan melalui tiga cara, diantaranya melakukan hubungan seks tanpa alat pengaman (jarum tumpul), pertukaran alat jarum suntik, dan air susu ibu. Sonny juga mendorong agar seluruh lapisan masyarakat dapat memberikan informasi tentang HIV dan AIDS, memotivasi dan mampu menjadi sahabat ODHA dan ADHA.

“Negara harus hadir dalam upaya upaya pencegahan dan penanganannya anak korban HIV dan AIDS, juga masyarakat perlu dilibatkan pada setiap tahapan terutama pada aspek pencegahannya. Saya berharap kegiatan ini dapat membukakan mata hati kita, bahwa Anak Korban HIV dan AIDS itu memang benar adanya dan perlu dicarikan solusi yang berdasar pada ”Kepentingan Terbaik Bagi Anak” dan menghargai hak-hak lainnya yang melekat pada anak. Saya juga menghimbau agar kita semua, termasuk anak – anak mampu menjadi sahabat bagi ODHA dan ADHA. Jauhi virusnya, bukan orangnya. Jauhi penyakitnya, bukan ODHA atau ADHA,” tutup Dermawan.

 

PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN
                                                                                                 DAN PERLINDUNGAN ANAK
                                                                                                         Telp.& Fax (021) 3448510,
                                                                    e-mail : publikasi@Kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Senin, 24 Juni 2019

Perkuat Peran Tokoh Adat dan Tokoh Agama Lindungi Perempuan dan Anak di Tanah Papua (21)

Perempuan dan anak seharusnya ikut terlibat aktif dalam berbagai sektor pembangunan, namun banyak di antara mereka yang masih mengalami berbagai…
Dokumen Kinerja, Jumat, 21 Juni 2019

LAKIP Inspektorat 2018 (21)

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018
Buku, Jumat, 21 Juni 2019

Laporan Akunntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018 (17)

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018
Program Kerja Pengawasan , Jumat, 21 Juni 2019

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018 (16)

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018
Siaran Pers, Kamis, 20 Juni 2019

Ramah Anak, Tanggung Jawab Media dalam Produk Jurnalistik (121)

Jakarta (19/06) – Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh dalam Sosialisasi Pemberitaan Media Ramah Anak di Jakarta (19/06)