SEMUA LANSIA ORANG TUA KITA,SAYANGI LANSIA

  • Dipublikasikan Pada : Minggu, 09 Desember 2018
  • Dibaca : 738 Kali
...

KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK
REPUBLIK INDONESIA

PRESS RELEASE
SEMUA LANSIA ORANG TUA KITA,SAYANGI LANSIA

Siaran Pers Nomor: B-256/Set/Rokum/MP 01/12/2018

 

Jakarta (8/12) Perempuan lansia di Indonesia berpotensi mengalami kekerasan dan diskriminasi ganda, baik karena statusnya sebagai perempuan maupun karena statusnya sebagai penduduk yang usianya sudah lanjut. Selain karena secara fisik mereka sudah banyak mengalami kemunduran, kenyataan juga menunjukkan masih rendahnya pemahaman dari masyarakat tentang lansia. Namun, masih banyak lansia sehat yang produktif dan dapat diberdayakan bagi masyarakat. Oleh karenanya, diperlukan kepedulian serta kebijakan pemerintah dan masyarakat terutama peranan keluarga untuk melindung lansia dari berbagai diskriminasi dan  eksploitasi.

“Perempuan lansia selalu dikonotasikan sebagai kelompok rentan yang selalu bergantung pada orang lain dan menjadi beban tanggungan keluarga, masyarakat dan negara. Padahal, masih banyak perempuan lansia yang tetap sehat, produktif dan mandiri di usia tuanya. Mereka adalah kelompok masyarakat yang harus terus diberdayakan, karena mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan kelompok penduduk lainnya dalam pembangunan. Perlu penanganan khusus pada lansia perempuan karena karakteristik mereka cenderung berbeda dengan lansia laki-laki. Masih ada beberapa diskriminasi terhadap lansia perempuan baik dari aspek budaya, politik, kesehatan, ekonomi dan sosialnya, yang kesemuanya ini dapat berpotensi terjadinya kekerasan,” pungkas Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Yohana Yembise pada kegiatan “Pertemuan Akbar 1000 Lansia  “Gerakan Sayangi Lansia: Semua Lansia Adalah Orang Tua Kita” di Teater Garuda Taman Mini, Jakarta.

Dalam kegiatan “Gerakan Sayangi Lansia” juga dilakukan Talkshow terkait perlindungan lansia dengan narasumber Maliki dari Bappenas dan Sukamdi dari Universitas Gadjah Mada. “Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat agar berperan aktif melindungi perempuan lansia khususnya dan lansia umumnya. Selain meningkatkan perlindungan perempuan lansia, juga diharapkan masyarakat dapat melakukan pemberdayaan lansia di semua bidang sesuai potensi dan kemampuannya,” ujar Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kemen PPPA, Vennetia R. Danes.

Berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 jumlah lansia di Indonesia sebanyak 21.609.717 juta jiwa. Jumlah lansia perempuan lebih banyak daripada lansia laki-laki. Berdasarkan data hasil Survey Pengalaman Hidup Nasional Perempuan (SPHNP) 2016 bahwa perempuan usia 50-64 tahun masih mengalami berbagai kekerasan, seperti kekerasan ekonomi 17,25%, kekerasan fisik yang dilakukan oleh pasangan 11,18%, kekerasan yang dilakukan selain pasangan 4,92%, kekerasan seksual 24,43%.

Ketua Organisasi Lansia “Dahlia Senja”, Ratna Hapsari mengatakan bahwa lansia masih mengalami berbagai kekerasan dalam kehidupan sehari – harinya. Ratna bercerita ketika organisasinya melakukan kunjungan kunjungan ke rumah – rumah lansia, Ratna menemukan bahwa lansia masih mengalami kekerasan, baik secara verbal, tindakan,dan pembebanan pekerjaan rumah tangga berlebihan oleh keluarganya. Kepedulian anggota keluarga terhadap lansia masih sangat sedikit. Hal ini terbukti dengan masih adanya  perkataan kasar dan kurangnya kesabaran anggota keluarga dalam merawat lansia. Lansia seolah – olah menjadi beban yang merepotkan bagi keluarga. Oleh karenanya, organisasinya melakukan sosialisasi dan memberikan pemahaman agar para keluarga lebih peduli terhadap kondisi dan kebutuhan lansia.

“Kepedulian serta kebijakan Pemerintah dan masyarakat terutama peranan keluarga dalam melindungi lansia sangat dibutuhkan. Kebutuhan tersebut antara lain jaminan kesehatan, jaminan kesejahteraan sosial, dan jaminan perlindungan hukum. Kebijakan program pembangunan yang dilakukan seharusnya lebih khusus dan terfokus, salah satunya untuk memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan penduduk lansia perempuan. Saya juga mengapresiasi Bupati Kepahiang, Bapak Hidayatullah Syahid yang sudah membentuk Lansia Maju Mandiri Sejahtera. Sayangi lansia, semua lansia adalah orang tua kita. Mari bersama hapuskan kekerasan terhadap lansia,” tutup Menteri Yohana.

 


PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

DAN PERLINDUNGAN ANAK

   Telp.& Fax (021) 3448510,

 e-mail : publikasi@kemenpppa.go.id

  www.kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Komitmen Pimpinan Pusat Dan Daerah Pacu Pembangunan Pppa (39)

Kepulauan Seribu (19/09) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melakukan Rapat Evaluasi Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan…
Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Kab.Sleman Berlari Menuju KLA (45)

"Kabupaten Sleman hingga sekarang terus berlari menuju Kabupaten Layak Anak (KLA)"
Siaran Pers, Kamis, 19 September 2019

Nextgen Networking, Wadah Jejaring Mahasiswa Peduli Perlindungan Anak (33)

Jakarta (19/09) – Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Wilayah Barat, Albaet Pikri
Siaran Pers, Kamis, 19 September 2019

Didik dan Lindungi Anak adalah Kepuasan Batin (56)

Anak itu, akan menjadi apa nantinya ya tergantung orang tua mereka"
Siaran Pers, Kamis, 19 September 2019

INDONESIA MILIKI 117 PUSPAGA SEBAGAI UNIT LAYANAN PENCEGAHAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (240)

Sejak diinisiasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada tahun 2016, Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) hingga tahun ini…