Anak Kelompok Minoritas dan Terisolasi adalah Anak Kita Semua

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 26 Februari 2019
  • Dibaca : 1390 Kali
...

Siaran Pers Nomor: B-026/Set/Rokum/MP 01/02/2019

Sorong (26/2) “Anak kelompok minoritas dan terlisolasi memiliki hak yang sama seperti anak – anak lainnya. Negara harus hadir dalam memberikan perlindungan khusus dan memperhatikan tubuh kembang mereka. Anak – anak di Tanah Papua, utamanya di wilayah pengunungan masih masuk ke dalam anak – anak kelompok minoritas dan terisolasi,” seru Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Yembise dalam kegiatan Dialog Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dengan Pendamping Anak Kelompok Minoritas di Kota Sorog, Prov. Papua Barat.

Lebih jauh lagi, Yohana mengatakan bahwa anak – anak di Tanah Papua merupakan anak kelompok minoritas dan terisolasi karena masih ada anak – anak yang tidak bersekolah karena harus membantu orang tua mereka di kebun. Padahal, mereka harus mempunyai akta kelahiran, serta akses terhadap kesehatan dan  pendidikan. 

Deputi Perlindungan Anak Kemen PPPA, Nahar mengatakan para pendamping anak kelompok minoritas dan terisolasi berasal dari kalangan LSM, lembaga pemerhati anak, dan Dinas terkait. Nahar berharap para pendamping bisa berperan dalam memenuhi hak anak kelompok minoritas dan terisolasi.

Perlu kita ketahui, ada beberapa kategori kelompok minoritas:
1) Kelompok minoritas ras; 
2) Kelompok minoritas etnis; 
3) Kelompok minoritas agama dan keyakinan; 
4) Kelompok minoritas berdasarkan identitas gender dan orientasi seksual; 
5) Kelompok minoritas berdasarkan kondisi khusus yang dapat menimbulkan diskriminasi.

Salah satu pendamping anak kelompok Minoritas, Lei Osok mengatakan bahwa kategori anak minoritas dan terisolasi bisa  berkembang dari pengertian di atas.
Seorang anak bisa saja merasa dirinya minoritas dan  terisolasi justru karena mereka dikekang dan mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya. Hal tersebut menyebabkan mereka merasa tidak percaya diri ketika berada di masyarakat. Lei pun menghimbau agar Kemen PPPA tidak hanya memberikan pendampingan kepada anak - anak kelompok minoritas dan terisolasi saja, namun juga memberikan sosialisasi dan pendampingan kepada para orang tua agar dapat memotivasi dan mendidik anak - anaknya dengan baik. Semua juga berawal dari keluarga.

Dalam kegiatan ini, para peserta dari lembaga pemerhati anak kelompok minoritas, Pimpinan Group Anak Suku Minoritas dan Dinas terkait di Kota dan Kabupaten Sorong mendapatkan banyak informasi dan saling berbagi pengalaman terkait perlindungan khusus bagi anak kelompok minoritas dan terisolasi. 

“Kita harus selamatkan anak – anak kelompok minoritas dan terisolasi, utamanya anak – anak Papua. Jika tidak, maka Tanah Papua akan rugi. Hentikan pelabelan “anak asli papua” atau “anak non papua”. Mari kita saling bergandeng tangan memutus mata rantai kekerasan dan diskriminasi terhadap anak – anak minoritas dan terisolasi, ” tutup menteri Yohana.

 

PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN

DAN PERLINDUNGAN ANAK

Telp.& Fax (021) 3448510,

e-mail : publikasi@kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Dokumen Perencanaan, Selasa, 25 Februari 2020

Indikator Kinerja Utama Sekretarian Kementerian PPPA Tahun 2020 (13)

Indikator Kinerja Utama Sekretarian Kementerian PPPA Tahun 2020
Dokumen Kinerja, Selasa, 25 Februari 2020

Laporan Kinerja Sekretariat Kementerian PPPA Tahun 2019 (10)

Laporan Kinerja Sekretariat Kementerian PPPA Tahun 2019
Dokumen Perencanaan, Selasa, 25 Februari 2020

Rencana Strategis Sekretariat Kementerian PPPA 2015-2019 (Revisi) (9)

Rencana Strategis Sekretariat Kementerian PPPA 2015-2019 (Revisi)
Dokumen Perencanaan, Selasa, 25 Februari 2020

Perjanjian Kinerja Sekretariat Kemen PPPA 2020 (12)

Perjanjian Kinerja Sekretariat Kemen PPPA 2020
Siaran Pers, Senin, 24 Februari 2020

Peran Serta Dunia Usaha, Dorong Hak Anak Terpenuhi (82)

Kemen PPPA meresmikan Gerai Starbucks Community Store pertama di Indonesia di Pasar Tanah Abang,