DUKUNG PELAKSANAAN PESTA DEMOKRASI, KEMEN PPPA TERBITKAN SURAT EDARAN BERSAMA TENTANG PEMILU 2019 RAMAH ANAK

  • Dipublikasikan Pada : Senin, 25 Maret 2019
  • Dibaca : 503 Kali

Siaran Pers Nomor: B-045/Set/Rokum/MP 01/03/2019


Jakarta (23/3) Sebagai bukti komitmen nyata dalam melindungi Anak Indonesia dari agenda politik di masa Pemilihan Umum (Pemilu), Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), hari ini pada 23 Maret 2019, siap mendukung penyelenggaraan pesta demokrasi dan berkomitmen melindungi anak selama masa pelaksanaan kampanye melalui Surat Edaran Bersama Tentang Pemilihan Umum Tahun 2019 yang Ramah Anak. Surat Edaran (SE) ini di terbitkan oleh empat Kementerian/Lembaga yang fokus pada isu Pemilihan Umum dan Anak, yaitu Kemen PPPA, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU). SE Bersama ini berisi 17 bentuk kegiatan yang seharusnya tidak dilakukan untuk lebih menjamin keamanan, kesehatan dan melindungi anak.

Surat Edaran Bersama yang diterbitkan dan ditandatangani pada 15 Maret 2019 ini berusaha memberikan rasa aman kepada anak-anak Indonesia serta menutup peluang anak-anak Indonesia menjadi korban eksploitasi serta disalahgunakan dalam kampanye-kampanye politik. Surat Edaran Bersama ini ditujukan kepada Peserta Pemilihan Umum, Penyelenggaran Pemilihan Umum, Kepala Daerah, masyarakat, orangtua dan pemangku kepentingan lainnya untuk tidak melibatkan anak dalam kegiatan kampanye. 

“Harapannya, SE Bersama ini dapat melindungi generasi penerus bangsa, terutama anak-anak dan pelibatan penyalahgunaan anak dalam kegiatan politik. Karena sesuai dengan suara anak-anak pada kegiatan Kampanye Ramah Anak pekan lalu, mereka tidak ingin dilibatkan dalam kampanye. Tugas mereka adalah bermain, bukan mempromosikan peserta kampanye yang bahkan belum tentu mereka kenal dan pahami”, ujar Deputi Bidang Perlindungan Anak Kemen PPPA, Nahar.

SE Bersama ini tentunya dirancang dengan berdasarkan prinsip kepentingan terbaik untuk anak. Dalam SE bersama ini disampaikan bentuk-bentuk penyalahgunaan anak dalam kegiatan politik. Mulai dari melibatkan anak untuk ikut menghadiri kampanye, menyalahgunakan fasilitas anak untuk kepentingan Pemilihan Umum, memasang foto atau video anak untuk kampanye, menggunakan tubuh anak sebagai iklan politik dengan memasang atribut peserta Pemilu, memprovokasi anak untuk memusuhi atau membenci peserta kampanye hingga melakukan upaya intimidasi dan diskriminasi pada anak yang orang tua atau keluarganya berbeda pilihan politiknya. 

Setelah dipublikasikannya SE Bersama Pemilu 2019 Ramah Anak secara resmi, harapannya bukan hanya Kemen PPPA, KPAI, Bawaslu dan KPU yang giat “pasang badan” untuk melindungi anak Indonesia dari kampanye politik, namun semua pihak juga merasa bertanggung jawab dan turut serta melakukan upaya melindungi anak-anak Indonesia. Edukasi atau pendidikan politik pada anak-anak bisa menjadi salah satu upayanya. Anak-anak tidak boleh tidak tahu sama sekali tentang politik, agar mereka paham batasan berpolitik dimana salah satu poinnya adalah tidak boleh melibatkan mereka dalam kampanye. Anak-anak perlu dipahamkan bahwa Negara melindungi mereka melalui Pasal 280 Ayat 2 Huruf K  Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu dimana didalamnya secara jelas disebutkan bahwa panitia atau tim Kampanye dilarang mengikutsertakan warga yang tidak memiliki hak pilih. Semakin banyak anak yang paham bahwa dirinya tidak boleh terlibat dalam kampanye politik, maka peluang untuk mencegah anak-anak terjebak dalam eksploitasi politik semakin besar. 

Pihak-pihak tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan tubuh anak demi perolehan suara politik juga sedapat mungkin dapat dicegah aksinya dengan mencerdaskan orangtua dan pihak-pihak tentang larangan melibatkan anak dalam kampanye politik. Sehingga anak-anak tetap aman selama kampanye, terjaga kesehatannya dan mendukung kenyamanan para peserta Pemilu selama pelaksanaan kampanye.  Bagi pihak-pihak yang akan melibatkan anak dalam kampanye sedapat mungkin memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak mengingat adanya sangsi hukum bagi pelanggar berupa hukuman pidana penjara 1 tahun dan denda maksimal Rp. 12.000.000,- sesuai Pasal 493 Undang-Undang No. 7 tahun 2017 tentang Pemilu.  Karena menjaga kelangsungan hidup, tumbuh kembang dan menjamin rasa aman anak di berbagai situasi adalah tanggung jawab kita bersama, termasuk dalam masa kampanye politik seperti saat ini.

                                              PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN

DAN PERLINDUNGAN ANAK 

Telp.& Fax (021) 3448510,

 e-mail : publikasikpppa@gmail.com

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Kamis, 27 Juni 2019

Seandainya Semua Orang Paham Kesetaraan Gender (15)

Manusia Indonesia memang sudah seharusnya melek dan sadar betapa kesetaraan gender dan strategi Pengarusutamaan Gender (PUG) dapat membawa lebih banyak…
Siaran Pers, Rabu, 26 Juni 2019

Optimalkan PUG melalui Berbagi Praktik Terbaik Daerah (42)

Yogyakarta (26/6) – Hari kedua rangkaian kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Capaian Kinerja Pelaksanaan PUG…
Siaran Pers, Kamis, 27 Juni 2019

Cegah dan Layani Anak Terjerat Radikalisme dan Terorisme di Maluku Utara (17)

“Tindak pidana terorisme yang melibatkan anak di Indonesia menjadi fenomena memprihatinkan yang mengancam tumbuh kembang anak, baik dari sisi kehidupan…
Siaran Pers, Kamis, 27 Juni 2019

Masyarakat Harus Ikut Cegah dan Dampingi Anak Berhadapan Hukum di Maluku Utara (16)

“Saat ini, masih banyak Anak Berhadapan Hukum (ABH) yang mengalami diskriminasi, stigmatisasi, dikucilkan, hingga diusir dari lingkungannya. Padahal, ABH yang…
Siaran Pers, Rabu, 26 Juni 2019

ANDIL DESA PERKUAT PERLINDUNGAN ANAK DARI PORNOGRAFI (27)

Kab. Agam (26/06) - Di Indonesia, sepanjang Tahun 2018 tercatat 150 kasus yang berkaitan dengan eksploitasi seksual anak terjadi.