Optimalkan PUG melalui Berbagi Praktik Terbaik Daerah

  • Dipublikasikan Pada : Rabu, 26 Juni 2019
  • Dibaca : 199 Kali
...

Yogyakarta (26/6) – Hari kedua rangkaian kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Pengarusutamaan Gender (PUG) dan Capaian Kinerja Pelaksanaan PUG di Yogyakarta diisi dengan diskusi panel. Sesi pertama diskusi panel membahas terkait strategi percepatan pelaksanaan PUG melalui Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG) guna mendorong otonomi dan kinerja daerah. Sedangkan sesi kedua diskusi panel membahas terkait berbagi praktik terbaik dari beberapa daerah terkait dengan pelaksanaan PUG.

Pakar Gender, Herman Siregar mengatakan tujuan pelaksanaan PUG adalah memastikan perempuan dan laki-laki mempunyai akses, partisipasi, kontrol, dan memperoleh manfaat yang sama dalam pembangunan nasional. “Untuk mewujudkan pelaksanaan PUG baik di daerah maupun secara nasional diperlukan strategi yang memperhatikan pengalaman, aspirasi, kebutuhan serta permasalahan perempuan dan laki-laki dalam seluruh pembangunan diberbagai bidang kehidupan. Setelah itu, barulah pelaksanaan PUG dapat dimulai dari tahap perencanaan, perumusan kebijakan, pelaksanaan, evaluasi dan pemantauan,” tambah Herman. 

Dalam kesempatan yang sama, Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Polhukhankam, Darsono menegaskan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan PUG di daerah adalah dengan adanya Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender (PPRG) yang selaras dengan kebijakan serta program pemerintah daerah. “Komitmen dan keseriusan pemerintah daerah dalam pelaksanaan PUG dapat dilihat dari rencana kebijakan dan anggaran yang responsif gender di wilayahnya masing – masing. Memang tidak mudah dalam implementasi PPRG di daerah, oleh karena itu perlu adanya pemetaan adaptasi regulasi PPRG di daerah serta ragam masalah dan kendala yang muncul di kemudian hari,” ujar Darsono.  
 
Selain pemahaman terkait konsep pelaksanaan PUG diperlukan juga inovasi dan adopsi praktik terbaik dari daerah yang sudah berhasil dalam pelaksanaan PUG. Dalam diskusi panel sesi kedua, beberapa perwakilan daerah membagikan pengalaman dan praktik terbaik masing-masing daerah dalam implementasi pelaksanaan PUG. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai tuan rumah kegiatan ini berbagi tentang Kebijakan Pembangunan Ketahanan keluarga dan Sistem Informasi Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (SIPAGER).

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Masyarakat (BPPM) DIY, Arida Utami menyampaikan berbagai upaya telah dan terus kami lakukan guna mempercepat pelaksanaan PUG di DIY. “Salah satu inovasi kami lakukan melalui SIPAGER. Latar belakang dari SIPAGER adalah PERGUB NO. 116/2014 tentang: Pedoman Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender. SIPAGER dibangun sebagai salah satu langkah konkrit dalam rangka implementasi PUG melalui penerapan PPRG di DIY,” tambah Arida.

Dalam kesempatan yang sama beberapa daerah seperti Rembang, Jawa Tengah berbagi pengalaman terkait integrasi Gender dalam Industri Rumahan. Eko Purwati, salah satu pelaku Industri Rumahan di Kab. Rembang, Jawa Tengah mengungkapkan pengalamannya menekuni industri rumahan yang dikelola oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). “Melalui industri rumahan ini, saya telah berhasil memajukan perekonomian keluarga. Berbagai pelatihan telah saya dapatkan, tidak hanya dari Kemen PPPA tapi juga instansi lainnya berupa keterampilan, sertifikasi halal hingga cara mengoperasikan internet untuk memudahkan proses pemasaran produk secara daring (online). Industri rumahan ini merupakan wujud pelaksanaan PUG di tingkat daerah,” ujar Eko. 

Maros, Sulawesi Selatan juga tidak kalah menarik dalam berbagi pengalaman terkait Integrasi Gender pada Isu Perubahan Iklim. Berbagai inovasi telah dilakukan salah satunya  pemanfaatan sampah menjadi barang  berharga seperti tas yang dikelola oleh  kelompok perempuan, dan disabilitas. 

Selain ketiga daerah diatas, daerah lain seperti Pekalongan, Jawa Tengah juga berbagi pengalaman terkait Kepemimpinan Perempuan Desa, sementara Waropen berbagi pengalaman terkait Sekolah Perempuan. 

Tujuan utama dari berbagi praktik terbaik dan pengalaman dalam pelaksanaan PUG di daerah tidak lain agar daerah lain dapat mengambil pelajaran dan mengimplementasikannya di daerah masing-masing. Hal yang penting untuk menjadi catatan semua pihak adalah bahwa percepatan pelaksanaan PUG tidak akan berjalan optimal tanpa adanya komitmen dan kolaborasi dari seluruh elemen yang ada, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, OPD, serta masyarakat. 
 

PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 
DAN PERLINDUNGAN ANAK 
Telp.& Fax (021) 3448510, 
e-mail : publikasi@kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Selasa, 23 Juli 2019

Kita Anak Indonesia, Kita Gembira (61)

Makassar (23/7) – Disambut anak-anak Indonesia yang memutar-mutar alat permainan khas Makassar, katto’-katto’, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak,
Siaran Pers, Selasa, 23 Juli 2019

Mama Yo : Sebar pengetahuan sebagai pelopor dan pelapor (36)

Makasar (22/07) – Ajang Forum Anak Nasional (FAN) yang berlangsung sejak tanggal 19 Juli 2019 resmi ditutup oleh Menteri Pemberdayaan…
Siaran Pers, Minggu, 21 Juli 2019

Harta yang Paling Berharga Adalah Keluarga (209)

Harta yang paling berharga adalah keluarga.
Siaran Pers, Sabtu, 20 Juli 2019

FAN : Wujudkan mimpimu, jadilah pelopor dan pelapor (92)

Makasar (20/07) – “Saya bermimpi menjadi dokter syaraf karena ingin menjadi keajaiban bagi orang lain. Saya yakin Tuhan tidak pernah…
Siaran Pers, Sabtu, 20 Juli 2019

Sulawesi Selatan Tuan Rumah Penyelenggaraan Satu Dekade FAN (149)

Makassar (19/7) – Memasuki masa satu dekade pertemuan Forum Anak Nasional (FAN),