Harta yang Paling Berharga Adalah Keluarga

  • Dipublikasikan Pada : Minggu, 21 Juli 2019
  • Dibaca : 1631 Kali
...

Siaran Pers Nomor: B-137/Set/Rokum/MP 01/07/2019

Makassar (21/7) – “Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga. Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah. Mentari hari ini berseri indah. Terima kasih, Emak. Terima kasih, Abah. Untuk tampil perkasa bagi kami putera puteri yang siap berbakti.” 

Sepenggal lirik lagu berjudul “Harta Berharga” yang dinyanyikan peserta Forum Anak Nasional (FAN) 2019 dari seluruh wilayah Indonesia menggema dalam pertemuan Satu Dekade FAN. Kegiatan yang mengambil tema “Kita Beda Kita Bersaudara, Bersama Kita Maju” ini diselenggarakan di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan diikuti oleh Forum Anak dari 514 kabupaten/kota seluruh Indonesia. 

Peran penting keluarga mengemuka dalam diskusi pemetaan masalah dalam pertemuan FAN 2019. Berbagai permasalahan mereka anggap masih kerap dialami anak-anak, seperti kekerasan fisik dan seksual, diskriminasi, eksploitasi anak, trafficking, serta perkawinan anak. Oleh karena itu, peran keluarga diperlukan guna mencegah tindakan tersebut.

Perwakilan Forum Anak Daerah Istimewa Yogyakarta, Ara mengatakan kelompoknya mengangkat isu perkawinan anak mengingat Indonesia merupakan negara yang menempati peringkat ke-7 tertinggi di dunia. “Untuk menekan angka perkawinan anak, kami ingin mendorong peran anak sebagai 2P (Pelopor dan Pelapor) melalui pendekatan dengan teman sebaya dan kerja sama dengan pemangku kepentingan lainnya. Kami berharap agar batas minimal usia perkawinan dinaikkan, baik untuk perempuan dan laki-laki,” tutur Ara.

Menurut Ara, peran keluarga sangat penting untuk menekan angka perkawinan anak karena lingkungan terdekat anak adalah keluarga. Keluarga sangat berpengaruh terhadap terjadinya perkawinan anak karena beberapa penyebab perkawinan anak, diantaranya adalah rendahnya pendidikan orang tua dan ketidakharmonisan dalam keluarga. “Anak tidak mungkin mencari dunia yang lebih mengasyikan di luar jika di lingkungan keluarganya, ia telah merasakan kebahagiaan,” kata Ara. 

Berbeda dengan Ara, perwakilan Forum Anak Nusa Tenggara Barat, Akbar mengatakan kelompoknya mengangkat isu pekerja migran dalam diskusi bersama teman-temannya. Mereka menilai masih banyak anak yang menjadi pekerja migran di Indonesia.Akibatnya, anak-anak tidak mendapatkan hak-haknya. Ketika menjadi pekerja migran, mereka disiksa, dipekerjakan tanpa upah yang layak, dan identitas dipalsukan, terutama dari faktor usia. 

“Pemerintah harus mengedukasi masyarakat untuk menghilangkan stigma bahwa bekerja di luar negeri dapat memberikan upah yang lebih besar. Kami berharap pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan agar masyarakat memilih bekerja di Indonesia dibandingkan negara lain,” ujar Akbar.

Akbar menambahkan orang tua juga harus dapat mempertahankan keharmonisan keluarga. Masih ada anak-anak yang mudah dieksploitasi karena ketidakharmonisan keluarga. Komunikasi antara orang tua dan anak juga menjadi hal penting untuk memastikan agar anak tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah. 

Hari ke-tiga pertemuan FAN 2019, para peserta yang telah dibagi dalam lima kelompok berdasarkan lima klaster perlindungan anak melakukan pemetaan masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dalam perlindungan anak, pemenuhan hak anak dan perlindungan khusus anak diuraikan dalam 5 (lima) klaster, yaitu: (1) Klaster 1: Hak sipil dan kebebasan; (2) Klaster 2: Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif; (3) Klaster 3: Kesehatan dasar dan kesejahteraan; (4) Klaster 4: Pendidikan, pemanfaatan waktu luang, dan kegiatan budaya; dan (5) Klaster 5: Perlindungan khusus. 

Pemetaan masalah dalam lima klaster tersebut kemudian dikemas dalam pementasan puisi dan drama musikal yang menarik. “Yuk kita bersama menjadi pelopor dan pelapor, wujudkan Indonesia yang layak anak,” seru mereka mengakhiri pementasan drama musikal.  


                  PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN                                 PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN                                                                                     DAN PERLINDUNGAN ANAK                                                                                             Telp.& Fax (021) 3448510,                                                                         e-mail : publikasi@kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Selasa, 13 April 2021

Menteri Bintang Minta Kepala Daerah Membuat Kebijakan Berpihak Pada Perempuan ( 10 )

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengharapkan kepala daerah lebih menghadirkan kebijakan yang berpihak pada perempuan. Hal itu…

Siaran Pers, Selasa, 13 April 2021

Indonesia Jadi Tuan Rumah G20 Empower, Perkuat Kepemimpinan Perempuan di Sektor Swasta ( 10 )

Indonesia akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang diselenggarakan di Bali pada 2022. Pada rangkaian KTT tersebut…

Siaran Pers, Jumat, 09 April 2021

Kemen PPPA Dorong Satuan Pendidikan Semakin Ramah Anak dan Remaja ( 70 )

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mendorong satuan pendidikan semakin empatik dan ramah terhadap anak dan remaja sebagai…

Siaran Pers, Jumat, 09 April 2021

Kemen PPPA Rampungkan Verifikasi Calon Penerima Anugerah Parahita Ekapraya 2020 ( 138 )

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) telah selesai melaksanakan verifikasi lapangan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020 terhadap…

Siaran Pers, Kamis, 08 April 2021

Menteri Bintang: Perempuan Tulang Punggung Pemulihan Sosial Ekonomi ( 100 )

Jakarta (08/04) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengatakan perempuan menjadi tulang punggung pemulihan kondisi sosial dan…