Teman Sebaya Dukung Sekolah Ramah Anak

  • Dipublikasikan Pada : Sabtu, 21 September 2019
  • Dibaca : 216 Kali
...

Siaran Pers Nomor: B-215/Set/Rokum/MP 01/09/2019

 

Balikpapan (20/9) Teman Sebaya berperan besar dalam mendorong terwujudnya Sekolah Ramah Anak (SRA). "Kami selalu mengajak teman-teman untuk berperilaku baik kepada sesama teman atau adik kelas, misalnya tidak berkata kasar, mengucapkan salam, dan tidak melakukan bullying. Jika ada teman yang ingin bertengkar secara fisik, maka akan kami lerai dan selesaikan secara baik atau kami serahkan ke guru," cerita salah satu anggota Duta Sekolah Ramah Anak (SRA) SD Kemala Bhayangkari Balikpapan di depan para awak media peserta Media Trip Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA).

Kepala Sekolah SD Kemala Bhayangkari Balikpapan, Baharuddin mengatakan bahwa Duta SRA adalah pola kakak dan adik asuh yang mengajak adik kelas atau teman sebaya untuk berperilaku baik. "Biasanya, sebelum jam istirahat kami mempersilahkan para Duta SRA untuk menuju kantin terlebih dahulu. Setelah itu, mereka bergabung dengan teman sebayanya atau mendampingi adik kelas untuk memberi contoh bagaimana berperilaku baik di kantin, seperti tidak membuang sampah sembarangan setelah makan," tutur Baharuddin.

Para guru SD Kemala Bhayangkari Balikpapan juga menerapkan disiplin positif kepada murid-muridnya. Jika ada murid yang tidak mengerjakan PR, maka mereka akan dinasehati terlebih dahulu dan dipersilahkan mengerjakan PR tersebut di kemudian hari. Jika mereka belum jera, maka orang tua murid tersebut akan dipanggil pihak sekolah. Pembangunan karakter para murid dan komunikasi dengan orang tua juga menjadi penting dalam mendukung penerapan disiplin positif di sekolah.

Asisten Deputi Bidang Pengasuhan, Keluarga dan Lingkungan Kemen PPPA, Rohika Kurniadi Sari mengatakan peran teman sebaya sangat berpengaruh untuk mempengaruhi pola pikir teman-temannya. "Duta SRA adalah agen perubahan sekolah. Penyampaian hal baik bisa menjadi lebih strategis dan efektif jika disampaikan oleh teman sendiri, karena mereka sampaikan dengan gaya dan bahasa sendiri. Namun, jika disampaikan orang tua terkadang cenderung instruktif dan represif, dan anak-anak merasa adanya jarak di antara mereka," ujar Rohika.

Pada kesempatan terpisah, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA, Lenny N. Rosalin menegaskan pentingnya semua sekolah (termasuk madrasah) harus ramah anak. 

"Anak-anak kita berada di sekolah setiap harinya sekitar 8 jam, atau sepertiga dari hidupnya. Untuk itu sangat penting bagi seluruh warga sekolah untuk melindungi anak-anak kita selama mereka berada di sekolah. Ada persyaratan, komponen dan tahapan SRA yang harus dipenuhi, sesuai standard yang sudah kita susun. Saat ini jumlah SRA lebih dari 23 ribu. SRA merupakan salah satu indikator Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), dari 24 indikator. Jika semua kabupaten/kota mencapai KLA, maka Indonesia Layak Anak (IDOLA) dapat kita wujudkan pada tahun 2030," tutup Lenny.

 


PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN                                                                                                                                    DAN PERLINDUNGAN ANAK  

Telp.& Fax (021) 3448510,  
e-mail : publikasi@kemenpppa.go.id                                                                                                                                                                                                     www.kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Senin, 21 Oktober 2019

KEMEN PPPA DORONG KABUPATEN/KOTA MEMBUAT RENCANA AKSI PUSPA (16)

Sebagai wadah bagi lembaga masyarakat yang perduli pada isu perempuan dan anak,
Siaran Pers, Senin, 21 Oktober 2019

Kemen PPPA Dorong Daerah Sinergi untuk Wujudkan RBRA (27)

Pemerintah Daerah berlomba-lomba meraih sertifikasi Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) yang merupakan program Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam…
Siaran Pers, Minggu, 20 Oktober 2019

PERCEPAT PENURUNAN ANGKA KEKERASAN ANAK, KEMEN PPPA LATIH UPTD DAN APH MANAJEMEN KASUS (43)

Dalam setiap penanganan kasus kekerasan dan eksploitasi terhadap anak, Konvensi Hak Anak telah mengamanatkan kepentingan terbaik anak diutamakan namun kenyataan…
Siaran Pers, Minggu, 20 Oktober 2019

Ingin Banyak Followers, Milenial Harus Jadi Kreator Konten Kreatif dan Edukatif (45)

Dunia maya tidak hanya menjadikan masyarakat, termasuk anak dan remaja sebagai konsumen, namun juga sebagai pencipta informasi layaknya konten kreator.
Siaran Pers, Jumat, 18 Oktober 2019

Papua New Guinea Belajar Pemberdayaan Ekonomi Perempuan dari Indonesia (64)

Jakarta (18/10) – ”Bicara tentang pemberdayaan ekonomi perempuan di Indonesia, tentunya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Usaha Mikro, Kecil, dan…