Percepat Penurunan Angka Stunting di Sumba Timur Melalui Peningkatan Gizi Ibu dan Anak

  • Dipublikasikan Pada : Kamis, 02 Juli 2020
  • Dibaca : 2081 Kali
...

 

Siaran Pers Nomor: B-133/Set/Rokum/MP 01/07/2020

Waingapu, Sumba Timur (2/7) – Stunting di Nusa Tenggara Timur bukan hanya persoalan kesehatan dan kekurangan gizi tapi juga karena kesulitan mendapatkan akses fasilitas pelayanan kesehatan. Faktor kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan serta pola asuh yang salah turut menyumbang tingginya angka prevalensi stunting di Nusa Tenggara Timur. Oleh sebab itu perlu dilakukan langkah konkrit untuk mempercepat angka penurunan stunting di Indonesia. 

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga menuturkan berdasarkan Strategi Nasional Percepatan Pencegahan Anak Stunting (Stranas PPAS) 2018, terdapat dua jenis intervensi yang harus dilakukan untuk mempercepat penurunan stunting. 

“Harus ada strategi yang tepat. Strategi intervensi gizi spesifik dengan kelompok sasaran diutamakan bagi ibu hamil, ibu menyusui, anak 0-23 bulan, remaja putri dan wanita usia subur, serta anak usia  24-59 bulan. Kemudian strategi intervensi gizi sensitif dengan kelompok sasaran keluarga dan masyarakat umum,” tutur Menteri Bintang saat memberikan sambutan dalam acara Rembug Penurunan Stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur, di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, NTT. 

Menteri Bintang melanjutkan adapun upaya yang dapat dilakukan untuk mempercepat penurunan stunting yaitu dengan memberikan kecukupan asupan makanan dan gizi; pemberian makan, perawatan dan pola asuh; serta pengobatan infeksi/ penyakit. Selain itu, dibutuhkan juga peningkatan akses pangan bergizi, peningkatan kesadaran, komitmen dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak, peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan dan peningkatan penyediaan air bersih beserta sarana sanitasi,” tutur Menteri Bintang. 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Provinsi NTT merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang masih menghadapi tantangan sumber daya dalam meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan anak. Dalam Profil Kesehatan Indonesia pada 2017 yang dikeluarkan oleh Pusat Data Kementerian Kesehatan mencatat angka Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) sebesar 15,5 persen, balita gizi kurang sebesar 28,2 persen, dan balita pendek sebesar 38,7 persen.

Bupati Sumba Timur, Gidion Mbiliyora menerangkan pada 2013 di Sumba Timur ada kurang lebih 2500 anak dimana 51,3 persen mengalami stunting. Sementara itu, angka stunting di Sumba Timur mengalami penurunan padan 2018 menjadi 39,1 persen dan 25 persen pada 2019. Kami menargetkan agar angka stunting di Sumba Timur bisa dibawah 20 persen pada 2020. 

"Untuk itu, pada hari ini kita semua berkumpul disini untuk bersama-sama merumuskan strategi  yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut. Hari ini hadir semua camat dan kepala desa di Sumba Timur terutama desa dengan angka stunting yang tinggi," ujar Gidion. 

Seperti yang diketahui, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mencatatkan provinsi dengan angka stunting tertinggi di Indonesia. Untuk itu, NTT membutuhkan edukasi ekstra dan nutrisi sejak masa kehamilan. Pemerintah provinsi NTT telah melakukan berbagai intervensi program pemberdayaan ekonomi masyarakat. Tujuannya untuk memperbaiki gizi masyarakat di wilayah perdesaan yang menjadi kantong stunting terbanyak.

Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur, Josef Nae menekankan selain kesehatan ada faktor lain yang juga menjadi penyebab terjadinya stunting yakni fenomena sosial-budaya. “Pernikahan usia dini, hamil di luar pernikahan sehingga kehamilannya disembunyikan karena malu, dan kehamilan yang tidak diketahui karena pengetahuan tentang fungsi reproduksi yang minim menjadi penyebabnya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018, proporsi gizi buruk dan gizi kurang pada balita sebesar 29,5 persen dan proporsi balita sangat pendek dan pendek sebesar 42,6 persen,” ujar Josef Nae. 

“Kalau kita lihat data yang ada, Timor Tengah Utara (TTU) merupakan salah satu kabupaten di Provinsi NTT yang memiliki angka stunting tertinggi. Penyebab tidak lain karena faktor gizi yang sangat kurang dan masih banyak ibu-ibu yang saat hamil kurang memberikan asupan gizi baik sehingga melahirkan anak dengan postur tubuh yang kerdil,” tambah Josef. 

Menteri Bintang mengimbau bagi ibu hamil yang ada di Kabupaten Sumba Timur agar mereka mendapatkan kebutuhan gizi yang sesuai dengan kondisi kehamilannya agar bayi yang dilahirkan nantinya tidak menjadi stunting. “Ibu hamil ini harus mendapatkan makanan tambahan, suplementasi tablet penambah darah, suplementasi kalsium, dan tidak boleh lupa untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Tentunya ini berlaku juga bagi ibu-ibu yang bekerja, dimana saya meminta kepada perusahaan untuk dapat menyediakannya bagi pekerja perempuan yang sedang hamil. Selain itu, bagi ibu menyusui saya minta kita semua melakukan promosi dan konseling agar semua ibu dapat menyusui bayinya, karena setiap bayi 0-6 bulan berhak atas ASI Eksklusif (hanya ASI), dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun dengan ditambahkan makanan pendamping ASI. Anak-anak usia di bawah 2 tahun perlu diberikan multivitamin dan multimineral untuk memenuhi kebutuhan gizi balita dan mendapatkan imunisasi lengkap.” ujar Menteri Bintang. 


PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN  PEREMPUAN
DAN PERLINDUNGAN ANAK
Telp.& Fax (021) 3448510,
e-mail: publikasi@kemenpppa.go.id
www.kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 09 April 2021

Kemen PPPA Dorong Satuan Pendidikan Semakin Ramah Anak dan Remaja ( 31 )

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mendorong satuan pendidikan semakin empatik dan ramah terhadap anak dan remaja sebagai…

Siaran Pers, Jumat, 09 April 2021

Kemen PPPA Rampungkan Verifikasi Calon Penerima Anugerah Parahita Ekapraya 2020 ( 92 )

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) telah selesai melaksanakan verifikasi lapangan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020 terhadap…

Siaran Pers, Kamis, 08 April 2021

Menteri Bintang: Perempuan Tulang Punggung Pemulihan Sosial Ekonomi ( 66 )

Jakarta (08/04) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengatakan perempuan menjadi tulang punggung pemulihan kondisi sosial dan…

Siaran Pers, Rabu, 07 April 2021

Perempuan dalam Pusaran Terorisme, Harus Dicegah Bersama ( 102 )

Jakarta (07/04) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Siaran Pers, Selasa, 06 April 2021

Perempuan Bangga Berkebaya, Pemersatu Identitas Budaya Bangsa  ( 130 )

Asisten Deputi Peningkatan Partisipasi Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nyimas Aliah menuturkan kebaya…