Manfaatkan Pangan Lokal untuk Penuhi Kebutuhan Gizi Anak

  • Dipublikasikan Pada : Kamis, 16 Juli 2020
  • Dibaca : 968 Kali
...

 

Siaran Pers Nomor: B-157/Set/Rokum/MP 01/07/2020

 

Jakarta (16/07) – Pemenuhan hak anak atas kesehatan melalui pemberian makanan sehat dan gizi seimbang harus tetap menjadi prioritas, apalagi di masa pandemi Covid-19. Hal ini agar kesehatan dan imunitas anak tetap terjaga. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut tak harus mahal. Orang tua bisa memenuhi kebutuhan gizi anak dengan menyediakan bahan pangan lokal dari alam Indonesia yang memiliki kualitas baik untuk menjaga kesehatan tubuh. 

Ahli Gizi Komunitas, dr. Tan Shot Yen menjelaskan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan pangan yang sehat bergizi seimbang untuk keluarga. “Pemenuhan kebutuhan makanan sehat sangat diperlukan oleh anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, salah satunya menerapkan pedoman gizi sehat seimbang. Seimbang dalam artian cukup dan tidak berlebihan dan tidak kekurangan. Namun, saat ini banyak orang yang lupa bahwa untuk hidup sehat dengan memakan makanan bergizi tak harus mahal sebab pangan yang sehat adalah pangan yang semakin dekat dengan bentuk aslinya di alam. Oleh karena itu, berikan makanan yang sehat dan bergizi pada anak dengan menggunakan bahan alami yang didapat dari alam bisa juga dengan memanfaatkan pangan lokal,” ujar dr. Tan dalam Bincang Ahli dan Kelas Inspirasi Anak (BAKIAK) dengan tema “Pangan Lokal untuk Kecukupan Nutrisi Keluarga”.

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Lenny N Rosalin menuturkan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi pada anak merupakan salah satu kunci keberhasilan bagi proses tumbuh kembang anak. Status gizi seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya tingkat kecukupan zat gizi dan ketahanan pangan.

“Pada masa pandemi saat ini, banyak tantangan yang dihadapi keluarga dalam pemenuhan kecukupan gizi anak, salah satunya pembatasan akses pada penyedia pangan lokal dan kebutuhan harian lainnya di awal masa pandemi. Selain itu, faktor lain dari orangtua yang kehilanga atau berkurangnya sumber pendapatan juga berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan gizi anak. Padahal, dalam masa pertumbuhannya anak memerlukan asupan gizi dan nutrisi yang berkualitas,” ujar Lenny dalam sambutannya pada Bincang Ahli dan Kelas Inspirasi Anak (BAKIAK) dengan tema “Pangan Lokal untuk Kecukupan Nutrisi Keluarga”.

Lenny mengatakan Kemen PPPA telah, sedang, dan akan terus melakukan berbagai upaya dalam rangka memberikan pemenuhan kebutuhan gizi bagi anak. “Khusus pada masa pandemi kami berupaya untuk tetap memenuhi kebutuhan gizi anak dengan memberikan paket pemenuhan kebutuhan spesifik anak, yang telah dilakukan sejak awal pandemi hingga saat ini. Jauh sebelum itu, Kemen PPPA telah menginisiasi Model Kampung Anak Sejahtera (KAS), program kolaborasi yang bertujuan untuk meningkatkan peran keluarga dalam memenuhi hak anak atas kesehatan dan kesejahteraan melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan di bidang pangan dan gizi untuk tumbuh kembang anak,” tambah Lenny.

Dalam rangka memenuhi hak anak atas kesehatan dan kesejahteraan, Kemen PPPA bekerja melalui 5 target sasaran intervensi. Pertama, melalui anak itu sendiri, anak dapat berperan menjadi pelopor konsumsi pangan lokal untuk kecukupan nutrisi mereka dan anak di lingkungan sekitar mereka. Dalam hal ini, Forum Anak, tingkat nasional hingga desa/kelurahan, yang berperan sebagai Pelopor dan Pelapor (2P) dapat mengambil peran tersebut. Kemudian melalui keluarga dengan memanfaatkan peran Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) yang sudah terbentuk 135 di 12 provinsi dan 120 kab/kota. PUSPAGA dapat berperan sebagai layanan keluarga yang bersifat preventif dan promotif tentang pentingnya pemenuhan nutrisi anak dalam pengasuhan keluarga. Ketiga, melalui Satuan Pendidikan yakni Sekolah/Madrasah Ramah Anak (SRA) yang telah diinisiasi oleh 43.563 SRA di 307 kabupaten/kota dan 34 provinsi. Keempat melalui lingkungan, dan kelima melalui wilayah/region tempat tinggal anak. Kesemuanya ini ditujukan untuk mencapai Indonesia Layak Anak (IDOLA) tahun 2030.

Sementara itu, Direktur Jendral Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi mengatakan ketahanan pangan merupakan suatu kondisi ketersediaan pangan yang cukup bagi setiap orang dan setiap individu yang mempunyai akses untuk memperolehnya, baik secara fisik maupun ekonomi. Fokus ketahanan pangan tidak hanya pada penyediaan pangan tingkat wilayah tetapi juga ketersediaan dan konsumsi pangan tingkat daerah dan rumah tangga, dan bahkan bagi individu dalam memenuhi kebutuhan gizinya. Sedangkan ketahanan pangan keluarga merupakan kemampuan keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan anggota rumah tangga dari segi jumlah, mutu, dan ragamnya sesuai dengan budaya setempat. 

“Salah satu upaya Kementerian Pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Indonesia yang juga sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Kemen PPPA ialah diversifikasi pangan lokal dari dua sisi yakni sisi produksi dan konsumsi dengan menggerakkan ekonomi petani lokal. Untuk dapat memenuhi kebutuhan gizi keluarga dapat menggunakan ketersediaan pangan lokal. Besan harapan melalui webinar hari ini dapat mengedukasi dan mensosialisasikan bahwa untuk menjadi bangsa yang kuat itu perlu energi yang kuat, energi tersebut tumbuh dan ada di bumi pertiwi ini. Oleh karena itu, mari hidup sehat penuhi asupan gizi dengan konsumsi pangan lokal serta cintai dan hargai produk petani lokal,” ujar Suwandi. 

Pada kesempatan yang sama Ketua Aku Cinta Makanan Indonesia (ACMI), Santhi H. Serad menyampaikan bagaimana pemenuhan gizi anak dapat tercukupi dengan menggunakan bahan makanan yang sehat dan alami. “Indonesia kaya akan jenis masakan dengan beragam bumbu rempah di dalamnya yang memberikan cita rasa tersendiri. Selain itu, Indonesia juga kaya akan sumber pangan lokal yang mengandung karbohidrat. Ini menjadi keuntungan bagi ibu-ibu rumah tangga dalam berkreasi mengolah makanan bergizi untuk anak agar mereka tidak merasa bosan namun tetap makan sehat setiap hari. Memberikan makanan yang bergizi pada anak juga tentang bahan-bahan makanan yang terkandung di dalamnya. Oleh sebab itu, dalam memberikan makanan pada keluarga khususnya pada anak dapat memanfaatkan bahan-bahan yang alami. Hal ini juga sekaligus dapat meningkatkan kreativitas ibu-ibu dalam mengolah makanan sehat, bergizi, dan mengandung bahan alami bagi anak,” ucap Santhi. 


PUBLIKASI DAN MEDIA KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN 
DAN PERLINDUNGAN ANAK 
Telp.& Fax (021) 3448510, 
e-mail : publikasi@kemenpppa.go.id

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 09 April 2021

Kemen PPPA Dorong Satuan Pendidikan Semakin Ramah Anak dan Remaja ( 43 )

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mendorong satuan pendidikan semakin empatik dan ramah terhadap anak dan remaja sebagai…

Siaran Pers, Jumat, 09 April 2021

Kemen PPPA Rampungkan Verifikasi Calon Penerima Anugerah Parahita Ekapraya 2020 ( 105 )

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) telah selesai melaksanakan verifikasi lapangan Anugerah Parahita Ekapraya (APE) Tahun 2020 terhadap…

Siaran Pers, Kamis, 08 April 2021

Menteri Bintang: Perempuan Tulang Punggung Pemulihan Sosial Ekonomi ( 72 )

Jakarta (08/04) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengatakan perempuan menjadi tulang punggung pemulihan kondisi sosial dan…

Siaran Pers, Rabu, 07 April 2021

Perempuan dalam Pusaran Terorisme, Harus Dicegah Bersama ( 111 )

Jakarta (07/04) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dan Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Siaran Pers, Selasa, 06 April 2021

Perempuan Bangga Berkebaya, Pemersatu Identitas Budaya Bangsa  ( 135 )

Asisten Deputi Peningkatan Partisipasi Organisasi Keagamaan dan Kemasyarakatan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nyimas Aliah menuturkan kebaya…