Bahaya! Perempuan Indonesia Rawan Jadi Pengedar Narkotika

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 2317 Kali

Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar berjabat tangan dengan Kepala Badan Narkotika Nasional Drs. Gories Mere seusai Penandatanganan MoU tentang Perlindungan Bagi Perempuan dan Anak dari Bahaya Narkotika di Jakarta, Senin Petang (8/8).
Teks dan Foto: Anthony Firdaus / Humas KPP & PA


Prevalensi warga negara Indonesia yang terlibat penyalahgunaan narkoba di 2010 diperkirakan sebesar 12 persen. Atau sekitar 30 juta orang Indonesia yang terlibat penyalahgunaan dan peredaran narkoba di Indonesia. Data Badan Narkotika Nasional [BNN] menyebutkan 0,0026 persen di antaranya adalah perempuan. Artinya saat ini terdapat 782 perempuan Indonesia yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba.

Penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang di Indonesia kian memprihatinkan. Badan Narkotika Nasional (BNN) menyebutkan pengguna dan pengedar narkoba saat ini diperkirakan mencapai 3,81 juta orang. Bahkan data mencatat 232 di antaranya masuk dalam jaringan distribusi narkoba. ''Perempuan sangat rawan dalam penyalahgunaan narkoba dan juga menjadi pengedar narkoba,'' kata Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar, Senin (8/8) petang.

Menurut Menteri Linda, perempuan Indonesia yang memilih menjadi kurir narkoba dipengaruhi banyak faktor. Mulai dari kemiskinan yang membelit kaum perempuan, gaya hidup komsumtif, serta perempuan yang kecanduan narkoba dan seks bebas akhirnya tergelincir juga menjadi pengedar.

Tidak hanya itu, populasi perempuan di Indonesia cukup besar, yakni mencapai 49,9 persen. Semakin banyak perempuan yang menjadi pengguna narkoba, maka nasib generasi bangsa ke depan makin terancam."Kalau digabung perempuan dengan anak, maka jumlahnya mayoritas, yakni mencapai 70 persen. Anak yang dimaksud adalah mereka yang berusia di bawah 18 tahun," ujar Istri Agum Gumelar.

Khusus untuk anak, mereka termasuk dalam bahaya penyalahgunaan narkoba. "Anak menjadi objek dan sekaligus subjek,'' tandasnya.

Menteri Linda menyambut baik kerja sama tersebut sebab anak dan perempuan, katanya, dangat rentan dengan narkoba. Dia sekaligus berharap peran keluarga bisa ikut proaktif mencegah peredaran narkoba dalam keluarga mereka. [AF]

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Selasa, 18 Februari 2020

Kasus Eksploitasi Seksual dan Perdagangan Anak Melalui Media Online Mengkhawatirkan, Menteri PPPA Angkat Suara (61)

Menanggapi maraknya kasus eksploitasi seksual dan perdagangan anak dengan modus iming-iming pekerjaan bergaji tinggi melalui aplikasi media sosial, Menteri Pemberdayaan…
Buku, Senin, 17 Februari 2020

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2018 (30)

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2018
Buku, Senin, 17 Februari 2020

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2017 (16)

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2017
Buku, Senin, 17 Februari 2020

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2017 (13)

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak Kabupaten/Kota 2017
Siaran Pers, Minggu, 16 Februari 2020

Kemen PPPA Terjunkan Tim Dampingi Anak Korban Perundungan di Malang (134)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menerjunkan tim untuk menindaklanjuti kasus perundungan yang menimpa pelajar SMPN 16 Malang,…