Linda Soroti Semakin Merosotnya Minat Baca

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 1557 Kali

Kemajuan teknologi ternyata tidak hanya membawa dampak positif semata berupa kemudahan akses. Banyak pula dampak negatif yang merambah hingga ke berbagai lini kehidupan. Salah satunya adalah budaya membaca yang kini mulai terkikis dan nyaris hilang.

Anak-anak yang dulunya akrab berteman dengan buku, malah kini meninggalkannya. Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan yang tidak bermanfaat.

"Saya rasanya sedih sekali melihat anak-anak seperti itu. Mereka malah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain game, ketimbang membaca. Dan ini sebenarnya menjadi ancaman serius bagi kita semua," ujar Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar saat menjadi pembicara dalam seminar pembudayaan gemar membaca di Pangkal Pinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Senin Siang (14/11).

Menurutnya, data menunjukan bahwa setiap tahun terjadi penurunan minat baca warga di negara ini secara drastis. Indonesia termasuk berada pada posisi buncit. Dari 62 negara yang menjadi sampel, Indonesia berada di urutan ke-57.

"Ini sungguh angka yang sangat memprihatinkan. Dan harus menjadi tugas kita bersama untuk bisa mengembalikan minat membaca, terutama anak-anak kita," katanya.

Begitu pula yang terjadi di kalangan orang tua. Kata Linda, orang tua kini juga lebih banyak berbicara ketimbang membaca. Padahal, idealnya, orang tua harus menjadi contoh atau teladan yang baik bagi anak-anaknya. Minimal bisa menyiapkan bahan bacaan ataupun perpustakaan keluarga.

"Mari bersama kita buat terobosan baru untuk menyelamatkan anak-anak bangsa. Selain di keluarga, kami di pemerintah juga akan terus dorong. Nanti kami ajak semua lembaga terkait untuk galakkan program taman bacaan, perpustakaan keliling, dan kota layak anak," imbuhnya.

Ia mencontohkan beberapa daerah yang sudah memulai program dimaksud. Seperti Yogyakarta yang kini mengalami lonjakan angka yang tinggi untuk minat membaca warganya. Itu bersamaan dengan program kota layak anak yang terus dikampanyekan di sana. Begitupun di Solo, Jawa Tengah yang menerapkan jam wajib belajar mulai pukul 18.30 sampai 20.30 WIB.

"Selama dua jam itu tidak ada aktivitas lain selain belajar. TV dimatikan. Dan orang tua ikut mendampingi anaknya belajar. Setelah 6 bulan dan dievaluasi, ternyata menunjukkan kemajuan prestasi yang luar biasa. Makanya program itu kini diteruskan," tuturnya.

 

(sumber: jpnn.com)

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Sabtu, 17 April 2021

Masyarakat dan Anak Bergerak Bersama Lindungi Anak Korban Terorisme ( 29 )

Sesuai Konvensi Hak Anak, setiap anak di Indonesia memiliki hak untuk bertumbuh dengan baik, didengarkan pendapat mereka dan memiliki hak…

Siaran Pers, Jumat, 16 April 2021

Wujudkan Nusa Tenggara Barat Lebih Ramah Perempuan dan Anak ( 22 )

Sudah banyak praktik baik yang dilakukan oleh Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.

Siaran Pers, Jumat, 16 April 2021

Resmikan Radio Sekolah Perempuan, Menteri Bintang Dorong Pemberdayaan Perempuan di Lombok Utara ( 40 )

Desa Sukadana adalah salah satu desa di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang pada tahun…

Siaran Pers, Kamis, 15 April 2021

Poligami Tak Sesuai Syariat Berpotensi Rugikan Perempuan  ( 75 )

Jakarta (15/04) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga mengatakan sebuah perkawinan bukan hanya mengenai kepentingan individu atau…

Siaran Pers, Kamis, 15 April 2021

Cegah Kekerasan dalam Pengasuhan, Kemen PPPA Sosialisasi E-Learning Pengasuhan Positif ( 90 )

Jakarta (14/04) –  Mendidik anak adalah proses pembelajaran bagi para orangtua dengan harapan tumbuh kembang anak mereka terjaga dengan baik…