Indonesia targetkan punya 100 Kota Layak Anak

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 2097 Kali

Meneg PP & PA Linda Amalia Sari Gumelar berfoto bersama seusai peluncuran Kota Layak Anak (KLA) dan membuka Konferensi Internasional II Asia Pasifik Layak Anak di Hotel Sunan, Solo Kamis (30/6).
Teks dan Foto: Anthony Firdaus / Humas Meneg PP & PA


SOLO: Indonesia menargetkan mempunyai 100 Kota Layak Anak (KLA) pada 2014 yang untuk mencapainya diperlukan komitmen kuat dari semua pihak, baik pemerintah, swasta, LSM, maupun masyarakat.

"Untuk mencapai kota layak anak (KLA) memanmg tidak mudah. Tapi kita harus menyediakannya. Memberi ruang bagi anak untuk tumbuh kembang lebih optimal, dan anak mendapatkan hak-haknya," kata Linda Amelia Sari Gumelar, Menteri Perempuan dan Perlindungan Anak hari ini seusai meluncurkan KLA dan membuka Konferensi Internasional II Asia Pasifik Layak Anak di Hotel Sunan, Solo.

International Conference on Child Friendly Asia Pacific 2011 ini merupakan lanjutan dari pertemuan yang sama di Florencia, Italia, tahun lalu. Saat itu, kata Linda, Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah penyelenggara konferensi kedua. Kegiatan ini diikuti oleh 500 peserta dari seluruh Indonesia, dan sejumlah negara. Ada 14 nara sumber asing yang berbicara dalam konferensi yang mengangkat tema Engaging children (Partisipasi anak).

Linda menuturkan Solo dipilih sebagai tempat penyelenggaraan konferensi karena kota ini merupakan salah satu yang termasuk dalam pengembangan KLA. "Sejauh ini Surakarta sudah menunjukkan peningkatan yang bagus dalam perwujudan KLA. Tak berlebihan kalau pertemuan tingkat internasional ini diadakan di sini," ujarnya.

Dia menuturkan konferensi layak anak bertujuan mendapatkan pelajaran dan pengalaman terbaik dari negara-negara lain, dalam hal pembangunan KLA. Ke-75 kota/kabupaten yang memiliki komitmen kuat untuk menjadi KLA itu, lanjutnya, sudah masuk dalam jaringan ramah anak Asia Pasifik.

"Karena sudah masuk jaringan internasional, maka kita bisa saling tukar pikiran dengan negara yang lebih maju dalam implementasi kota yang layak anak," tambah Linda.

Sebuah kota/kabupaten bisa disebut KLA, jika anak-anaknya mampu berperan aktif mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pengembangan wilayahnya. "Pemerintah Indonesia punya komitmen kuat untuk memfasilitasi keberadaan KLA di seluruh wilayah. Salah satunya dengan diterbitkannya Inpres No 1/2010 tentang percepatan pembangunan melalui KLA," ujar Linda.

[sumber: bisnisindonesianews.com]

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Senin, 24 Februari 2020

Peran Serta Dunia Usaha, Dorong Hak Anak Terpenuhi (27)

Kemen PPPA meresmikan Gerai Starbucks Community Store pertama di Indonesia di Pasar Tanah Abang,
Siaran Pers, Minggu, 23 Februari 2020

Menteri Bintang : Perempuan Harus Mandiri dan Berdaya, Kunci Wujudkan Generasi Unggul! (37)

“Bangsa ini akan maju jika perempuan Indonesia dapat berdaya, memiliki akses untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat, mempunyai kontrol atas berbagai…
Siaran Pers, Sabtu, 22 Februari 2020

Pedofil Anak Makin ‘Merajalela’, Kemen PPPA: Berikan Efek Jera pada Pelaku (78)

Jakarta (22/02) - Beberapa hari lalu, publik kembali dibuat geram dengan terkuaknya kasus pedofil anak sesama jenis dan eksploitasi seksual…
Siaran Pers, Jumat, 21 Februari 2020

Angka Pekerja Migran Indonesia di Lombok Tengah Tinggi,  Kemen PPPA Perkuat Pembinaan Keluarga (60)

Jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kota Lombok Tengah dan Provinsi NTB tergolong besar. Hal ini menimbulkan berbagai permasalahan terkait…
Siaran Pers, Jumat, 21 Februari 2020

Resmikan UPTD PPA di NTB, Menteri Bintang Apresiasi Pemerintah Provinsi (40)

“Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), per 15 Januari 2020, jumlah laporan kasus kekerasan terhadap…