Cara Bicara Ibu, Kunci Kemampuan Sosial Anak

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 2963 Kali

Para ibu seringkali disalahkan atas perilaku buruk anak-anaknya. Setiap kesalahan pada anak, seringkali dianggap sebagai hasil pola didik ibu yang kurang baik. Meskipun kedengarannya kurang adil, hasil studi terbaru juga ikut memperkuat tuduhan tersebut. Sebuah penelitian dari Inggris menunjukkan, cara berbicara ibu kepada anak-anak mereka di usia muda akan mempengaruhi kemampuan sosial mereka ke depannya.

Studi menemukan, anak-anak dengan ibu yang selalu menjelaskan kepada mereka mengenai perasaan, keyakinan, keinginan, serta maksud orang-orang, mengalami perkembangan pemahaman sosial yang lebih baik dibandingkan anak-anak dengan ibu yang tidak menjelaskan hal-hal tersebut.

Pada bagian pertama studi, para ibu diminta untuk menjelaskan kepada anak mereka yang masih berusia 3 tahun mengenai gambar-gambar yang melukiskan pemandangan seperti anak yang pulang sekolah dengan wajah gembira serta gambar orang-orang yang sedang mengantri. Studi menemukan, anak-anak dengan ibu yang berbicara mengenai keadaan mental karakter di gambar tersebut, cederung mempunyai performa yang lebih baik dalam mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan pemahaman sosial.

Penelitian dilakukan selama 14 tahun dan dampak ini tetap terlihat saat peneliti kembali mengunjungi keluarga-keluarga yang menjadi partisipan dalam studi, di tahun-tahun berikutnya. Peneliti juga mengontrol status sosial ekonomi dan IQ ibu. Para peneliti menemukan kalau faktor ini tidak relevan.

"Anda bisa memprediksi pemahaman sosial anak saat nantinya dia berusia 8 atau 9 tahun dengan melihat pemahaman sosial mereka saat berusia 3 atau 4 tahun," terang pemimpin studi Nicola Yuill yang sekaligus juga dosen senior di bidang psikologi dari University of Sussex di Inggris, seperti dikutip situs cnn.

Dampak ini akan melemah saat anak berusia 10-12 tahun. Hal ini, terang peneliti, bisa disebabkan karena usia anak semakin bertambah, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, serta akibat pengaruh teman-teman dan guru mereka jadi lebih banyak.

Akan tetapi, terang Yuill, anak usia 12 tahun bisa mengerjakan tugas-tugas pemahaman sosial sama baiknya dengan ibu mereka. Hal ini, lanjut Yuill, menunjukkan kalau anak di usia ini juga mempunyai kemampuan sosial yang sama baiknya dengan orang dewasa.

Pada salah satu tes pemahaman sosial, anak-anak usia 8 tahun dan anak yang lebih tua diminta untuk menyaksikan TV series Inggris "The Office" dan selanjutnya diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai situasi-situasi dalam TV series tersebut. Misalnya, cara tokoh utama, David Brent, mempermalukan orang-orang tanpa menyadarinya. Anak-anak juga diminta menilai perasaan orang lain dari gambar-gambar dan menjelaskan apa yang akan mereka lakukan dalam situasi yang sama dengan melibatkan perasaan orang lain.

"Komunikasi mengenai empati merupakan hal terpenting yang bisa Anda lakukan" terang Nancy Weisman, seorang pakar psikologi di Mariatta, Georgia."Dalam setiap momen setiap harinya, Anda akan berada pada situasi-situasi yang memungkinkan Anda untuk mengajarkannya kepada anak-anak" terang dia.

Yuill dan teman-temannya tertarik melatih orangtua untuk menggunakan keahlian berbicara ini dan melihat apa dampaknya. Saat memulai studi 14 tahun lalu, terang Yuill, para peneliti fokus pada ibu karena sulit menemukan ayah yang bisa menghabiskan banyak waktu bersama anak-anaknya di rumah. Tapi sekarang, terang dia, ayah juga bisa ikut ambil bagian dalam menjelaskan hal-hal kepada anak-anak mereka.

Menurut Weisman, orangtua bisa memanfaatkan berbagai kesempatan untuk berbicara kepada anaknya. Saat menonton TV misalnya, lanjut dia, bisa dimanfaatkan untuk menjelaskan kepada anak mengenai perasaan seorang tokoh akibat tindakan karakter lainnya. Jika seseorang berteriak di supermarket, terang dia, Anda bisa menggunakannya untuk menjelaskan kepada anak mengenai perasaan orang lain.

Dawn Huebner, seorang ahli jiwa dari Exeter, New Hampshire, menjelaskan lebih jauh bahwa orangtua perlu memberikan kosa kata mengenai perasaan kepada anak-anak mereka."Anak-anak tidak selalu menyadari apa emosi mereka dan mereka membutuhkan kata-kata untuk mendeskripsikan perasaan tersebut" terang dia.

Jika anak Anda merebut sesuatu dari anak lainnya, terang Huebner, lebih baik Anda mengatakan kalimat seperti Dia sangat sedih karena kamu mengambilnya, daripada menggunakan kalimat seperti jangan mengambilnya atau hentikan itu.

Tetapi, tegas Yuill, pemahaman sosial bukan jaminan kalau anak akan bersikap baik. Anak yang menunjukkan kemampuan pehamanan sosial yang mengagumkan dalam studi, juga bersikap paling jelek terhadap ibu mereka dalam tugas kelompok menyetir mobil buatan di sekitar jalur yang telah ditentukan. Hal ini, terang Yuill, menunjukkan kalau pemahaman sosial bukan segala-galanya dan harus digunakan dengan cara yang menguntungkan.

Menurut Laurie Zelinger, seorang ahli jiwa dari Cedarhurst, New York, tingkah buruk seperti ini bisa terjadi karena jika anak-anak merasa bisa mengenali perasaan mereka, mereka merasa lebih nyaman dalam mengekspresikan berbagai emosi.

"Penemuan ini menunjukkan pentingnya berbicara mengenai perasaan dan kondisi mental tetapi juga mengindikasikan kepada anak-anak cara mengatasi perasaan tersebut" terang dia.

Penulis : Ikarowina Tarigan
Sumber : Media Indonesia, 22 Mei 2009

 

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Senin, 24 Juni 2019

Perkuat Peran Tokoh Adat dan Tokoh Agama Lindungi Perempuan dan Anak di Tanah Papua (40)

Perempuan dan anak seharusnya ikut terlibat aktif dalam berbagai sektor pembangunan, namun banyak di antara mereka yang masih mengalami berbagai…
Dokumen Kinerja, Jumat, 21 Juni 2019

LAKIP Inspektorat 2018 (29)

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018
Buku, Jumat, 21 Juni 2019

Laporan Akunntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018 (18)

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018
Program Kerja Pengawasan , Jumat, 21 Juni 2019

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018 (16)

Laporan Akuntabiltas Kinerja Inspektorat Tahun 2018
Siaran Pers, Kamis, 20 Juni 2019

Ramah Anak, Tanggung Jawab Media dalam Produk Jurnalistik (130)

Jakarta (19/06) – Ketua Dewan Pers, Mohammad Nuh dalam Sosialisasi Pemberitaan Media Ramah Anak di Jakarta (19/06)