Sinetron, Pendisiplinan Pasar, dan Utopia Perempuan

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 3180 Kali

Sinetron merupakan nama populer dari sinema elektronika. Sekalipun kisah yang disajikan tidak logis, cenderung melecehkan akal sehat, dan bahkan merendahkan martabat perempuan, sinetron tetap menjadi andalan dalam industri tontonan.

Ketika Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Linda Agum Gumelar menyayangkan sinetron dan film yang dinilainya tidak mencerdaskan kaum perempuan, ada benarnya. Dalam penilaiannya, sinetron dan film yang banyak ditonton kaum perempuan, ibu-ibu, dan anak-anak justru sekadar mengajarkan kejahatan, kejudesan, dan perilaku licik. Pertanyaannya, mengapa sinetron semacam itu tetap diproduksi? Mengapa penonton dominan perempuan menyenangi tayangan itu?

Jawaban utamanya, mekanisme pasar. Dalam industri televisi, pasar tidak sekadar menjadi arena permainan untuk menjalankan aktivitas penawaran dan permintaan. Pasar televisi merupakan ajang pendisiplinan tentang tayangan apa yang harus disukai atau ditolak.

Ketika sinetron disukai bukan semata-mata karena sinetron itu pantas ditonton, tetapi karena berhasil menjadi seperangkat teknologi pengawasan yang mengharuskan penonton menunjukkan kesetiaan menyimak cerita yang tidak masuk kualifikasi nalar.

Hukuman dan imbalan

Sinetron mendisiplinkan penonton yang kebanyakan perempuan melalui teknik pemberian hukuman dan pengerahan imbalan. Tidak menyaksikan sinetron berarti penonton akan kehilangan tontonan yang mengiris-iris perasaan. Sebaliknya, menonton sinetron terus- menerus menjadikan penonton mendapatkan hiburan yang mampu memuaskan hati. Apakah sinetron merendahkan derajat dan kehormatan perempuan bukan menjadi problem moral bagi pengelola televisi dalam industri televisi yang sepenuhnya didikte keinginan pasar.

Persoalan krusial yang layak diungkap, mengapa sinetron sangat disukai perempuan? Sebagai genre cerita, sinetron tidak berbeda jauh dari opera sabun. Peristiwa yang menimbulkan efek kesedihan, kekaguman, kemarahan, kejengkelan, dan keharuan sengaja dieksploitasi.

Dramatisasi yang berlebihan dan melampaui kewarasan nalar itu justru semakin diminati. Prinsip yang menyatukan sinetron dan opera sabun sepadan dengan metode tabloidisasi pada koran kuning, yaitu if it bleed, it leads. Semakin berdarah-darah semakin bagus.

Feminis menunjukkan keprihatinannya atas situasi tak sehat itu sejak dekade 1980-an dengan mencoba mengungkap mengapa opera sabun (sinetron) sedemikian populer bagi perempuan.

Tania Modleski (sebagaimana dikutip Jorge Reina Schement [ed], Encyclopedia of Communication and Information: Volume 3, 2002: 930) menyatakan perempuan tertarik pada opera sabun karena perempuan mampu mengikuti cara bertutur (naratif) yang bercorak feminin ketimbang yang maskulin. Jadi, opera sabun (sinetron) sengaja diciptakan dengan mengikuti cara berpikir dan berperasaan perempuan.

Modleski mendefinisikan narasi feminin pada opera sabun sebagai: (1) cerita bersifat nonlinear, yang berarti tidak ada kejelasan tentang permulaan, bagian tengah, dan akhir cerita, (2) didasarkan pada dialog ketimbang tindakan, (3) memuat sejumlah interupsi, dan (4) menyebarkan perhatian dan kesetiaan bagi penonton.

Modleski juga berargumentasi, tidak sebagaimana narasi maskulin yang klimaksnya penyelesaian masalah, opera sabun menghadirkan antisipasi. Kenikmatan menyaksikan opera sabun terletak pada antisipasi itu.

Penangguhan resolusi

Tampaknya hal itulah yang menjadikan opera sabun atau sinetron selalu dapat dibuat dalam rangkaian cerita yang panjang. Setiap persoalan sengaja ditangguhkan resolusinya. Dapat dikatakan setiap persoalan justru mendapat antisipasi sehingga cerita seakan tidak pernah tuntas. Emosi penonton secara kontinu diaduk-aduk karena setiap kali cerita akan diakhiri justru melahirkan masalah baru.

Christine Geraghty (dalam Women and Soap Opera, 1991) menyatakan, genre opera sabun menekankan pada protagonis perempuan yang mengundang khalayak memberikan dukungan. Dalam genre ini sengaja ditampilkan: 1) pemisahan ruang publik dan wilayah privat, 2) ruang laki-laki dan ruang perempuan disajikan secara berurutan, dan 3) keunggulan perempuan dalam cerita didasarkan pada pemahaman dan pengendaliannya terhadap kemampuan emosionalnya.

Fantasi dan eskapisme perempuan disajikan dengan mengeksplorasi isu melalui penciptaan utopia. Artinya, nilai yang diasosiasikan dengan wilayah personal ditampilkan dominan. Selain itu, opera sabun juga menghadirkan tampilan distopia, yang berarti konsekuensi terhadap pengabaian nilai tadi sengaja dibiarkan.

Utopia maupun distopia dalam sinetron dan opera sabun adalah dunia rekaan belaka. Utopia dapat bermakna sebagai dunia yang tidak ada sama sekali dan juga dunia mahasempurna. Bukankah dalam sinetron kita sosok antagonis yang jahat digambarkan sangat buruk dan begitu biadab, sebaliknya figur protagonis dihadirkan sangat baik dan penuh kesempurnaan? Adakah dunia serba hitam-putih selain dalam sinetron?

Tragisnya, dunia yang serba utopis itu menjadi menu sehari-hari yang "wajib" disantap kaum perempuan dan anak-anak akibat rezim pendisiplinan televisi telah menyusup secara sangat rapi dalam narasi feminin.

Oleh: Muhammad Yamin

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Sabtu, 21 September 2019

PPT KTPA Bentuk Negara Hadir Lindungi Perempuan dan Anak (41)

Pusat Pelayanan Terpadu Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak (PPT KTPA) RSUD Beriman Balikpapan yang berdiri sejak Februari 2019 memberikan penanganan…
Siaran Pers, Sabtu, 21 September 2019

Teman Sebaya Dukung Sekolah Ramah Anak (50)

Teman Sebaya berperan besar dalam mendorong terwujudnya Sekolah Ramah Anak (SRA).
Siaran Pers, Sabtu, 21 September 2019

Ayo ke PUSPAGA, Demi Keluarga Berkualitas! (40)

Menjadi orang tua di zaman sekarang memiliki tantangan yang lebih berat daripada menjadi orang tua di zaman dahulu.
Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Komitmen Pimpinan Pusat Dan Daerah Pacu Pembangunan Pppa (67)

Kepulauan Seribu (19/09) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melakukan Rapat Evaluasi Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan…
Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Kab.Sleman Berlari Menuju KLA (85)

"Kabupaten Sleman hingga sekarang terus berlari menuju Kabupaten Layak Anak (KLA)"