Hidup dengan HIV

  • Dipublikasikan Pada : Selasa, 23 Februari 2016
  • Dibaca : 4108 Kali

Saya (27) karyawan perusahaan swasta. Tiga tahun lalu suami saya meninggal dunia dan sebelum meninggal dokter memberi tahu suami saya terinfeksi HIV. Saya juga kemudian mendapat informasi dari mertua saya sebenarnya suami saya mantan pengguna narkoba.

Saya tentu merasa sedih dan kecewa karena suami tidak berterus terang sebelum kami menikah. Tetapi, nasi telah menjadi bubur dan saya harus menerima kenyataan tersebut. Pada waktu suami dirawat, saya dan anak saya yang berumur dua tahun dianjurkan dokter menjalani tes.

Saya menolak karena belum siap untuk sekaligus menerima kenyataan yang lebih buruk. Barulah tiga bulan kemudian tes saya jalani. Hasilnya, saya positif, tetapi kekebalan tubuh saya baik. CD4 saya masih dalam batas normal. Hasil tes anak saya sangat menggembirakan saya, hasilnya negatif.

Hasil tersebut menambah semangat hidup saya. Saya lebih menjaga diri, memelihara kesehatan dengan hati-hati, dan bersemangat dalam bekerja. Di kantor tak ada satu pun teman saya yang mengetahui status saya. Bahkan, mereka mendapat kesan saya lebih rajin bekerja. Saya juga berusaha menolong teman-teman yang dalam kesusahan sesuai dengan kemampuan saya.

Jika ada kesempatan menolong orang lain saya lakukan dan saya merasa mendapat kepuasan dapat berguna bagi orang lain. Saya sekarang memeriksakan diri tiga bulan sekali kepada dokter.

Menurut dokter, belum waktunya saya minum obat antiretroviral. Saya hanya mendapat vitamin. Nanti jika kekebalan tubuh saya (CD4) sudah turun mendekati 350, barulah akan dipertimbangkan minum obat ARV.

Sampai saat ini hidup saya cukup karena saya hidup sederhana. Saya menabung dan memasukkan anak saya ke asuransi kesehatan dan asuransi pendidikan. Saya banyak di rumah dan menulis buku harian. Sebenarnya saya hobi memasak dan menurut keluarga masakan saya enak. Saya ingin menjadikan hobi saya menjadi tambahan penghasilan.

Adakah lembaga pemerintah atau swasta yang dapat mendukung keinginan saya? Saya hanya pandai memasak, tetapi tak memahami pemasaran. Saya rasa banyak ibu rumah tangga mempunyai kebutuhan meningkatkan penghasilan keluarga, tetapi terbentur pemasaran produk yang dihasilkan.

Pertanyaan lain saya mengenai manfaat berbagai susu khusus, produk alami, jamu untuk yang banyak dikonsumsi orang dengan HIV. Apakah produk tersebut bermanfaat? Harga produk yang ditawarkan mahal, tetapi kalau bermanfaat saya tak keberatan membeli. Saya berharap dapat tegar menghadapi kehidupan ini dan membesarkan anak saya dengan baik. Mohon penjelasan Dokter.

J di J

Saya memahami situasi sulit Anda, tetapi saya merasa lega karena Anda berhasil mengatasinya. Bahkan, saya juga bangga di tengah situasi sulit tersebut Anda dapat menyempatkan diri menolong orang lain. Saya juga ikut gembira anak Anda tak terinfeksi HIV.

Memang risiko seorang anak tertular dari ibu yang positif sekitar 35%. Risiko tersebut dapat diturunkan sehingga hanya menjadi sekitar 2% jika ibu tersebut menjalani program pencegahan penularan HIV dari ibu hamil ke bayinya. Meski Anda tak sempat menjalani program tersebut, anak Anda ternyata tak terinfeksi. Saya berharap anak Anda dapat tumbuh kembang dengan baik berkat cinta kasih Anda.

Anda terinfeksi HIV belumlah lama sehingga kekebalan tubuh Anda masih baik (CD4 masih normal). Anda belum waktunya minum obat ARV.

Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia yang baru menganjurkan penggunaan ARV pada CD4 di bawah 350. Meski CD4 Anda cenderung akan menurun, Anda dapat memperlambatnya dengan mengamalkan gaya hidup sehat.

Anda perlu mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga teratur, tidur cukup, dan hidup optimistis. Kekebalan tubuh kita naik-turun sesuai gaya hidup kita. Merokok, minum alkohol, dan depresi dapat mempercepat penurunan kekebalan tubuh.

Penggunaan ARV nantinya dapat menurunkan jumlah virus dalam darah. Umumnya, orang yang menggunakan ARV setelah enam bulan dapat mencapai keadaan dalam darahnya HIV amat sedikit sekali atau tak ditemukan. Akibatnya, kekebalan tubuh (CD4 akan naik kembali).

Jangan lupa jika sudah menggunakan ARV, hendaknya digunakan teratur dan terus-menerus. Penghentian obat ARV akan mengakibatkan virus berkembang biak lagi, bahkan juga berisiko obat menjadi resisten.

Sebenarnya ada upaya pemerintah dalam meningkatkan penghasilan keluarga, seperti yang dilaksanakan BKKBN, Menko Kesra, dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. Bantuan tersebut berupa pelatihan dan pemberian modal kerja.

Yang dirasakan kurang adalah bantuan pemasaran. Banyak ibu rumah tangga membutuhkan bantuan pemasaran. Alangkah baiknya jika produk rumah tangga dapat ditampung dan dijual suatu badan khusus. Dengan demikian, ibu rumah tangga tak perlu memikirkan pemasarannya.

Saya pernah berkeliling ke sentra industri di Cakung, Mal UKM di Karet Tanah Abang, dan pusat buku di Kelapa Gading, Proyek Senen, dan Jakarta City Center di Kebon Kacang. Semuanya sepi dan banyak toko tidak mampu bertahan lagi kemudian tutup. Mereka memerlukan uluran tangan untuk memasarkan keberadaan mereka. Mereka tak mampu membayar iklan cukup mahal.

Sebenarnya pemerintah, media massa, dan pihak lain dapat membantu sehingga produk dalam negeri kita dapat dipasarkan dengan baik.

Tahun 2009 ini pemerintah bertekad memajukan produk dalam negeri. Semoga perhatian pada produk ibu rumah tangga juga akan ditingkatkan. Saya mendoakan Anda tetap sehat dan terus produktif serta dapat mendidik anak Anda dengan baik.

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Komitmen Pimpinan Pusat Dan Daerah Pacu Pembangunan Pppa (39)

Kepulauan Seribu (19/09) – Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melakukan Rapat Evaluasi Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan…
Siaran Pers, Jumat, 20 September 2019

Kab.Sleman Berlari Menuju KLA (45)

"Kabupaten Sleman hingga sekarang terus berlari menuju Kabupaten Layak Anak (KLA)"
Siaran Pers, Kamis, 19 September 2019

Nextgen Networking, Wadah Jejaring Mahasiswa Peduli Perlindungan Anak (33)

Jakarta (19/09) – Staf Khusus Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Wilayah Barat, Albaet Pikri
Siaran Pers, Kamis, 19 September 2019

Didik dan Lindungi Anak adalah Kepuasan Batin (56)

Anak itu, akan menjadi apa nantinya ya tergantung orang tua mereka"
Siaran Pers, Kamis, 19 September 2019

INDONESIA MILIKI 117 PUSPAGA SEBAGAI UNIT LAYANAN PENCEGAHAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (240)

Sejak diinisiasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada tahun 2016, Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) hingga tahun ini…