Melanjutkan Kuliah Bagi Siswa Tak Mampu

  • Dipublikasikan Pada : Rabu, 24 Februari 2016
  • Dibaca : 3906 Kali

Wiji Rahayu (18) baru saja menginjakkan kaki di rumah kosnya di Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota Kediri. Siswi kelas tiga Sekolah Menengah Kejuruan Pawiyatan Dhaha, Kota Kediri ini terlihat lelah setelah mengikuti uji coba (try out) materi ujian nasional 2009 di sekolahnya.

Namun, gadis asal Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, sekitar 30 kilometer dari Kota Kediri, ini tidak lantas tidur siang. Ia malah mencuci baju karena persediaan baju bersih di lemari telah menipis. Setelah itu, ia harus kembali ke sekolah untuk mengikuti pelajaran tambahan.

Siswi jurusan akuntansi ini mengaku terbiasa hidup susah. Walaupun ia anak tunggal, kehidupan ekonomi keluarganya pas-pasan. Orangtua Wiji yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani di kampung tidak pernah memberinya uang lebih.

Hal inilah yang membuat Wiji patah semangat untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, walaupun ia selalu mendapat rangking 10 besar di sekolahnya. "Saya dan orangtua inginnya melanjutkan kuliah, tapi untuk ngirimi setiap bulan selama saya sekolah di sini saja kadang kurang, padahal cuma Rp 200.000," ujarnya.

Wiji mengatakan, orangtuanya sudah menabung untuk biaya pendaftaran kuliah. Tetapi uang untuk kebutuhan lainnya seperti membeli buku, biaya kos, dan biaya hidup setiap bulan, belum ada. "Padahal kata teman-teman saya, untuk hidup di Surabaya diperlukan dana minimal Rp 500.000 per bulan bagi mahasiswa. Maunya nyari beasiswa, tapi kan sulit, saingannya banyak" katanya.

Lain Wiji, lain Leny. Siswi jurusan manajemen SMK Pawiyatan Dhaha ini mengaku akan mencari kerja selepas lulus nanti. "Saya mau cari kerja dulu, menabung buat biaya kuliah," katanya.

Bungsu dari dua bersaudara ini sejak kecil hidup mandiri. Kedua orangtuanya bekerja di Kalimantan sebagai buruh di perusahaan penambangan batu bara. Ia ditinggal di Desa Wates bersama adiknya yang sekarang duduk di kelas 1 SMP.

"Prestasi saya pas-pasan, jadi susah nyari beasiswa. Lagian, kalaupun dapat beasiswa, uang untuk biaya lainnya juga masih nyari. Apalagi adik saya juga butuh uang untuk sekolah" ujarnya.

Berharap pekerjaan

Leny hanya bisa berharap, setelah lulus SMK ia segera mendapatkan pekerjaan agar bisa membiayai diri sendiri dan menabung untuk kuliahnya nanti. "Saya dengar masuk UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta lewat jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri) juga harus bayar uang sumbangan dasar minimal Rp 5 juta" ucapnya.

Koordinator Bimbingan Konseling SMAN I Kota Kediri Ulfatul Mufida mengatakan, peluang beasiswa bagi siswa tidak mampu memang sangat kecil, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali.

Persyaratannya juga sangat sulit ditambah lagi persaingannya yang ketat. "Sejumlah perguruan tinggi negeri menyediakan beasiswa kuliah dan bantuan biaya hidup, tapi ya satu sekolah ini saja yang dapat setiap tahun sekitar satu orang dari ratusan siswa" ujarnya.

Menurut Ulfa, orientasi siswa melanjutkan kuliah adalah di PTN. Selain kualitas pendidikan bagus, biayanya juga lebih murah dibanding kuliah di swasta. Sayang, jumlah kursi yang disediakan sangat terbatas. Padahal, pendidikan sangat penting sebagai modal bagi bangsa ini berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Namun, nyatanya banyak generasi muda yang tertahan hanya sampai lulus SMA.

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Selasa, 18 Februari 2020

Kasus Eksploitasi Seksual dan Perdagangan Anak Melalui Media Online Mengkhawatirkan, Menteri PPPA Angkat Suara (94)

Menanggapi maraknya kasus eksploitasi seksual dan perdagangan anak dengan modus iming-iming pekerjaan bergaji tinggi melalui aplikasi media sosial, Menteri Pemberdayaan…
Buku, Senin, 17 Februari 2020

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2018 (37)

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2018
Buku, Senin, 17 Februari 2020

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2017 (19)

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2017
Buku, Senin, 17 Februari 2020

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak 2017 (16)

Indeks Komposit Kesejahteraan Anak Kabupaten/Kota 2017
Siaran Pers, Minggu, 16 Februari 2020

Kemen PPPA Terjunkan Tim Dampingi Anak Korban Perundungan di Malang (150)

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menerjunkan tim untuk menindaklanjuti kasus perundungan yang menimpa pelajar SMPN 16 Malang,…