Jangan Bawa Anak-Istri Mudik dengan Motor

  • Dipublikasikan Pada : Jumat, 19 Februari 2016
  • Dibaca : 5455 Kali

Mudik adalah sebuah fenomena ‘wajib’ yang seringkali kita jumpai menjelang lebaran atau hari raya Idul Fitri. Aktivitas ini berkaitan dengan kegiatan seorang perantau/pekerja migran untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik berasal dari bahasa Jawa "Mulih Dhisik" yang artinya pulang dulu. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orang tua. Umumnya tradisi ini hanya ada di Indonesia.

Fenomena mudik biasa dilakukan dengan berbagai macam moda transportasi massa, baik darat, laut, maupun udara. Sampai dengan saat ini moda transportasi daratlah yang paling populer digunakan, khususnya dengan motor karena relatif lebih murah, ringkas dan mungkin cepat.

Anggapan itu mungkin saja benar, namun jika dilihat dari jarak tempuh dan kondisi lalu lintas yang ada ternyata mudik dengan menggunakan motor memiliki potensi risiko yang jauh lebih besar dibandingkan dengan moda transportasi lainnya. Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mengklaim bahwa potensi risiko pengendara motor lebih besar 3 – 4 kali lebih besar dibandingkan dengan kendaraan roda 4 lainnya.

Klaim tersebut tentu berdasarkan fakta dan realitas di lapangan. Sebagai contoh data kecelakaan dari Korlantas Polri pada saat mudik lebaran tahun lalu sebesar 4.893 kasus kejadian kecelakaan, di mana 862 korban meninggal, 1.443 luka berat dan 4.833 luka ringan. Dari data tersebut 70 persen disumbangkan oleh pengendara motor.

Sayangnya informasi tersebut tampaknya belum sepenuhnya disadari oleh banyak pemudik. Hal ini dapat dibuktikan dengan terus meningkatnya jumlah pemudik dengan motor setiap tahunnya karena jumlah populasi kendaraan jenis ini masih yang terbesar di Indonesia.

Mudik dengan motor memang memiliki banyak kekurangan dibandingkan dengan jenis moda transportasi lainnya. Kondisi cuaca, lalu lintas dan jarak tempuh yang jauh tentu dapat memengaruhi konsentrasi si pengemudi, selain itu minimnya sistem perlindungan motor juga menjadi penyebab tingginya risiko kecelakaan, apalagi dengan membawa anak-istri. Kondisi anak yang rentan terhadap perubahan cuaca serta daya tahannya yang tidak sekuat orang dewasa tentu saja membuat dirinya cepat kelelahan. Hal inilah yang membuat risiko kecelakaan dengan menggunakan motor menjadi sangat tinggi.

Kondisi ini tentu saja mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, khususnya pemerintah. Beberapa instansi terkait, seperti Kementerian Perhubungan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kepolisian telah mengadakan sosialisasi tentang pentingnya menjaga keselamatan diri dan keluarga dalam bermudik. Selain itu, penawaran sejumlah alternatif guna menanggulangi masalah ini juga telah dilakukan. Adanya program mudik gratis dengan bus, sistem check point bus dan angkutan gratis dengan kereta api dan kapal laut tentu ditujukan agar angka kecelakaan, khususnya bagi pengendara motor dapat ditekan serendah mungkin.

Namun, adanya sejumlah alternatif tersebut tidak akan berjalan secara efektif tanpa adanya dukungan, kepedulian dan peran serta dari masyarakat. Perwujudan ketiga hal tersebut dapat berupa memanfaatkan berbagai alternatif yang telah disediakan pemerintah maupun beralihnya pada moda transportasi yang aman dan nyaman. Selain itu yang juga perlu diperhatikan adalah agar para pemudik selalu meningkatkan kedispilinan dalam berlalu lintas.

Nuansa lebaran yang kental dengan aroma kegembiraan dan kebersamaan tentu tidak ingin ternoda oleh adanya insiden kecelakaan. Oleh karenanya bermudiklah dengan cara yang aman dan nyaman agar acara silaturahmi anda dengan keluarga dapat berjalan dengan baik.

Publikasi Lainya

Siaran Pers, Rabu, 12 Agustus 2020

Kemen PPPA Kaji Ulang RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, Kejar Masuk Prolegnas 2021 (29)

Memastikan penegakan hukum dan regulasi yang mengatur agar korban mendapat keadilan dalam upaya penghapusan kekerasan seksual, menjadi sangat penting bahkan…
Siaran Pers, Selasa, 11 Agustus 2020

Dukung Peningkatan Layanan Unit PPA POLRI, Menteri Bintang Ingatkan Pelayanan Berperspektif Korban (31)

Permasalahan perempuan dan anak merupakan permasalahan multi sektoral, sehingga layanan perempuan dan anak korban kekerasan harus diberikan secara komprehensif dan…
Siaran Pers, Selasa, 11 Agustus 2020

Menteri PPPA : Ajak Anak Praktikkan Nilai Pancasila dalam kehidupan Nyata (102)

Di tengah arus globalisasi yang kuat, ancaman intoleransi dan perpecahan, ideologi militan, serta ketidakadilan menjadikan tantangan tersendiri dalam menanamkan nilai-nilai…
Siaran Pers, Senin, 10 Agustus 2020

Optimalisasi Layanan JDIH, Kemen PPPA Sediakan Kemudahan Akses Produk Hukum terkait PPPA (99)

Jakarta (10/08) – Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) merupakan suatu sistem pemanfaatan bersama peraturan perundang-undangan dan bahan dokumentasi hukum…
Siaran Pers, Jumat, 07 Agustus 2020

Menteri PPPA: Perkawinan Anak Harus Dihentikan! (85)

Perkawinan bukanlah sekadar romantisme belaka